Tahlilan

Tag

Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu
pengarang kitab tafsir Jalalain)didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan ‘tahlilan’ berupa memberikan makan selama 7 hari setelah kematian
merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau :

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ، ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ،
ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎ ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻷﻭﻝ

“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai
kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan
sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir,amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat
Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan
tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’.

Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri
arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As- Suyuthi :

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﻭ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1947 ﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﺭﺟﻌﺖ ﺇﻟﻰ
ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1958 ﻡ. ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎً ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻹﻭﻝ.
ﺍﻩ. ﻭﻫﺬﺍ ﻧﻘﻠﻨﺎﻫﺎ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﺑﺘﺼﺮﻑٍ. ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ : ﻭﺷﺮﻉ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﻹﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺐ ﻳﺤﺘﺎﺝ
ﻣﺎ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔٍ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻓﻜﺎﻥ ﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔِ ﻣﻌﻮﻧﺔٌ ﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻟﻴﺨﻔﻒ ﻋﻨﻪ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﺴﺆﻝ ﻭﺻﻌﻮﺑﺔ ﺧﻄﺎﺏ
ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻭﺇﻏﻼﻇﻬﻤﺎ ﻭ ﺍﻧﺘﻬﺎﺭﻫﻤﺎ .

“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada)
dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M.
Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak
zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz
As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai
bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi
malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”.
Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah,sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah.

Ulasan berikut merupakan penjelasan Ust. Muhammad Idrus Ramli saat
menanggapi argumentasi pihak Wahhabiyah dalam sebuah dialog di Batam (Lihat :Video Dialog Ust. Idrus Ramli (Ahlussunnah) Dengan
Wahabi Ust. Firanda Andirja dan Ust. Zainal Abidin di Batam)
***
Ini yang dimaksud (yang dipersoalkan pada) tahlilan itu
makanannya, bukan bacaannya, bukan ihdauts tsawab nya kan ya ..kan (tahlilan) yang 7 hari itu yang dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh itu memang hukumnya makruh. Makruhnya itu mengapa ? karena yang sunnah itu adalah tetangga
memberikan makan kepada keluarga duka cita, berdasarkan hadits

“ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻷﻝ ﺟﻌﻔﺮ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻓﻘﺪ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﺃﻣﺮ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ ، ﺃﻭ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﻣﺎ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ

 Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang berduka cita”.
Jadi yang sunnah, tetangga memberikan makan untuk keluarga yang berduka cita, karenanya kalau dibalik, keluarga duka cita membuat makan untuk tetangga maka
hukumnya makruh karena mukhalafah lis-sunnah, karenanya kata para Ulama, ini alasannya karena memberatkan. Dalam teori ushul fiqh

” ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻳﺪﻭﺭ ﻣﻊ ﻋﻠﺘﻪ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻭﻋﺪﻣﺎ

Hukum itu akan selalu berputar bersama illatnya ketika ada maupun tidak ada” .
Karenanya kata para ulama, ketika didalam makanan yang diberikan kepada jama’ah itu murni dari keluarga duka cita maka hukumnya makruh, tapi kalau makanan itu bukan dari keluarga duka cita, dari tetangga, orang lain, maka tidak
makruh, karena sudah tidak memberatkan. Kaidah ushul fiqhnya seperti itu.
Seperti diterangkan oleh salah seorang ulama mufti syafi’iyyah dari Iraq, Syaikh Abdul Karim al-Mudarris dalam kitabnya Jawahirul Fatawa, kondisi yang ada di Indonesia ketika ada orang meninggal yang dikeluarkan itu tidak murni dari
keluarga duka cita tetapi banyak sumbangan dari tetangga, bahkan
dulu saya, teman-teman mondok,kalau tidak punya beras, biasanya pinjam kepada orang yang keluarganya meninggal, karena oleh orang dianteri beras banyak sekali
sampai berkwintal-kwintal, bahkan ketika keluarga saya meninggal juga seperti itu Jadi, makruh ketika itu memang murni dari keluarga duka cita, (tapi) kalau dari luar
(orang lain) maka tidak makruh.

Yang kedua, seandainya ini makruh . Karena ini budaya/tradisi, kalau ini
dilawan akan menimbulkan gejolak, dan ini tidak bagus. Imam Ibnu Muflih alMaqdisi
didalam kitab al-Adab al-Syar’iyyah, mengutip dari Ibnu ‘Aqil dalam kitab al-Funun, kata beliau, “Tidak selayaknya meninggalkan adat masyarakat selama adat itu tidak Haram” . Jadi, selama tidak haram,tidak sebaiknya meninggalkan.
Mengapa ? ini bukan karena takut,tetapi berdakwah kepada masyarakat dengan pendekatan hati, dengan pendekatan lemah lembut, mengapa ? karena ini yang dilakukan oleh Rasulullah SaW.
Didalam kitab tersebut diterangkan  karena Rasulullah Saw membiarkan Ka’bah dan tidak melakukan rekontrusi, alasannya karena umat Islam baru meninggalkan masa-masa jahiliyah.Suatu ketika Rasulullah Saw bersabda kepada Aisyah, ka’bah itu bukan ka’bahnya Nabi Ibrahim, pada masa jahiliyah pernah roboh, ketika orang Quraisy membangun ka’bah bersamaan dengan krisis ekonomi, karena tidak ada biaya, maka ka’bah dibangun lebih kecil. Lalu kata Aisyah, kenapa tidak dibongkar dan dibangun lagi ?kata Rasulullah : “Seandanya bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah, ka’bah itu saya rekontruksi”.Ka’bah saja dibiarkan, apalagi cuma tahlilan 7 hari. Penting mana mengubah ka’bah dengan mengubah acara tahlilan 7 hari. Karena ka’bah itu kiblat, kiblat umat Islam.Ternyata ka’bah ini setelah tahun 65 hijriyah, dibongkar oleh Khalifah Abdullah bin Zubair, dibangun kembali seperti ka’bahnya Nabi Ibrahim, lebih besar dari yang ada,cuma bin Zubair ini menjadi khalifah tidak kondusif, perang terus dengan Bani Umayyah, setelah dia kalah, proyek Khalifah yang baru Abdul Malik bin Marwan adalah ka’bah ini dibongkar dikembalikan lagi ke ka’bah jahiliyah. Alasannya ini ka’bahnya Abdullah bin Zubair, bukan ka’bahnya Rasulullah”. Akhirnya ada seorang ulama, menyampaikan kepada Abdul Malik bin Marwan, bahwa ini Abdullah bin Zaubair mendapat wasiat dari Aisyah dari Rasulullah Saw.. Setelah Bani Umayyah ini tumbang, diganti Bani Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid punya rencana membongkar ka’bah, alasannya adalah ini ka’bah bid’ah, ka’bahnya Bani Umayyah, (lebih bid’ah daripada Tahlilan, tambahan)kemudian beliau meminta pendapat dari Ulama, ternyata apa kata Imam Malik “Jangan engkau lakukan wahai Amirul Mukminin, aku khawatir ka’bah ini menjadi mainan dari para penguasa (setiap ada penguasa ingin menarik simpati rakyat maka proyeknya membangun ka’bah, penj),maka akan hilang wibawa ka’bah dari hati umat Islam”.

Ka’bah sampai sekarang dibiarkan, demi menjaga ka’bah. Tradisi 7 hari itu dibiarkan : yang pertama karena (cuma) makruh, yang kedua karena
sudah adat istiadat, ketika, masyarakat banyak memberikan sumbangan yang dapat meminimalisir bahkan menghilangkan hukum makruhnya,
kemudian yang ke empat, juga demi menjaga haibah -nya ulama dahulu.
Para ulama, para kyai, masyayikh, pesantren-pesantren,sampai
sekarang masih tahlilan. Ulama- ulama dahulu saja membiarkan
tahlilan 7 hari. Ka’bah saja dibiarkan apalagi cuma tahlilan.
(Diantara dasar yang dijadikan oleh ulama atas tradisi ini adalah) Imam
Ahmad tidak shalat qabliyah maghrib, mengapa ? karena orang- orang tidak percaya kalau ini sunnah, akhirnya beliau tidak shalat.
Jadi bukan takut, tetapi menjaga tidak terjadi benturan dengan masyarakat. Itu cara didalam berdakwah, bukan langsung “bid’ah, syirik”, bukan seperti itu.

Imam Al- Qarafi adalah ahli fikih dalam madzhab Maliki, di tahun 684 H di Mesir. Beliau disebut al-Qarafi karena selama mencari ilmu ia menetap di Qarafah (pekuburan). Di masa itu Tahlilan sudah populer dengan istilah fidyah:

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﻫُﻮﻧِﻲُّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘَﺮَﺍﻓِﻲُّ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ﻫُﻮَ ﻓِﺪْﻳَﺔُ ﻟَﺎ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒِ ﻣَﺮَّﺓٍ ﺣَﺴْﺒَﻤَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺍﻟﺴَّﻨُﻮﺳِﻲُّ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻬِﻤَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔُ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ 6 / ﺹ 105 )

“ar-Rahuni berkata: Tahlil yang dikatakan oleh al-Qarafi yang dianjurkan untuk diamalkan adalah doa fidyah La ilaha illa Allahu, sebanyak 70.000 kali. Terlebih disebutkan oleh as-Sanusi dan lainnya. Inilah yang difahami oleh para imam” (Anwar al-Buruq 6/105)

Masih dalam kitab yang sama, juga dijelaskan tentang Tahlil:

ﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻬْﻤِﻞَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔَ ﻓَﻠَﻌَﻞَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻓَﺈِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣُﻮﺭٌ ﻣَﻐِﻴﺒَﺔٌ ﻋَﻨَّﺎ ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑٌ ﻓِﻲ ﺣُﻜْﻢٍ ﺷَﺮْﻋِﻲٍّ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮٍ ﻭَﺍﻗِﻊٍ ﻫَﻞْ ﻫُﻮَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺮَﺕْ ﻋَﺎﺩَﺓُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻧَﻪُ  ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ، ﻭَﻳُﻌْﺘَﻤَﺪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ
ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻴَﺴِّﺮُﻩُ ﻭَﻳُﻠْﺘَﻤَﺲُ  ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑِﻜُﻞِّ ﺳَﺒَﺐٍ ﻣُﻤْﻜِﻦٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺠُﻮﺩُ  ﻭَﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥُ ﺍ ﻫـ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ
ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ 6 / ﺹ 104 )

“Tetapi yang dianjurkan oleh seseorang adalah agar tidak meninggalkan masalah ini (baca al- Quran di kuburan). Semoga pendapat yang benar adalah sampainya pahala kepada orang yang telah wafat. Sebab ini adalah masalah yang tak terlihat bagi kita. Dalam masalah ini tidak ada perselisihan tentang hukum syariatnya, hanya dalam masalah realitasnya seperti itu atau tidak.
Demikian halnya dengan TAHLILAN yang sudah menjadi TRADISI manusia saat ini yang mereka amalkan. Hal ini dianjurkan untuk diamalkan dan diteguhkan atas
karunia Allah, kemudahan yang diberikannya….” (Anwar al-Buruq 6/105)

Riwayat dari Imam al-Qarafi diatas juga menguatkan fatwa Ibnu Taimiyah yang memang hidup 1 masa dengan beliau:

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏(ﺝ 5 / ﺹ471‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻤَّﻦْ ” ﻫَﻠَّﻞَ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺑَﺮَﺍﺀَﺓً ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ” ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ؟ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ
ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻪُ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ . ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﺇﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻫَﻜَﺬَﺍ : ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﺃَﻭْ ﺃَﻗَﻞَّ ﺃَﻭْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ . ﻭَﺃُﻫْﺪِﻳَﺖْ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻧَﻔَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺜًﺎ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺿَﻌِﻴﻔًﺎ . ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ .

“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang orang yang bertahlil 70.000 kali dan
menghadiahkannya kepada mayyit, supaya memberikan keringan kepada
mayyit dari api neraka, haditsnya shahih ataukah tidak ? Apakah
seseorang manusia yang bertahlil dan menghadiahkan kepada mayyit,
pahalanya sampai kepada mayyit ataukah tidak ?
Jawab : Apabila seseorang bertahlil sejumlah yang demikian ; 70.000 kali atau lebih sedikit atau lebih banyak dari itu dan menghadiahkannya kepada mayyit
niscaya Allah akan memberikan kemanfaatan kepada mayyit dengan hal tersebut, dan tidaklah hadits ini shahih dan tidak pula dlaif. Wallahu A’lam”.

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏( ﺝ 5 / ﺹ 472‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺗَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ؟ ﻭَﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴﺢُ ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻤِﻴﺪُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮُ ﺇﺫَﺍ ﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻬَﺎ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ .
ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﺗَﺴْﺒِﻴﺤُﻬُﻢْ ﻭَﺗَﻜْﺒِﻴﺮُﻫُﻢْ ﻭَﺳَﺎﺋِﺮُ ﺫِﻛْﺮِﻫِﻢْ ﻟِﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺇﺫَﺍ ﺃَﻫْﺪَﻭْﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺻَﻞَ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ

“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang keluarga al-Marhum yang membaca al-Qur’an yang disampaikan kepada mayyit ? Tasybih, tahmid, tahlil dan takbir, apabila menghadiahkannya kepada mayyit, apakah pahalanya sampai kepada mayyit ataukah tidak ?
Jawab : Pembacaaan al-Qur’an oleh keluarga almarhum sampai kepada mayyit, dan tasbih mereka, takbir dan seluruh dziki-dzikir karena Allah Ta’alaa apabila menghadiahkannya kepada mayyit, maka sampai kepada mayyit. Wallahu A’lam

Fatwa Aneh Wahabi

Tag

Di Saudi Arabia para ulama wahabi berkumpul di Dewan Ha’iah Kibar Al- Ulama dan al-Lajnah al-Daimah li’l-Buhuts al-’Ilmiyyah wa’l ifta’ (The Permanent Council for Scientific Research and Legal Opinions),Seperti : ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1911-1999), sampai meninggalnya ia adalah mufti agung Kerajaan Saudi
Arabia. Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin (1927) Abdullah bin Jibrin dan Shalih bin Fauzan yang juga memimpin al-Ma’had al-’Ali li’l Qudah (Supreme Judicial Council).
Sekarang coba kita perhatikan beberapa hasil fatwa kaum sesat Wahabi ini :

PERTANYAAN 1

Saya ingin mengirimkan foto saya kepada istri, keluarga, dan teman-teman saya, karena sekarang saya berada di luar negeri. Apakah hal ini dibolehkan?
JAWABAN (oleh komite ulama Lajnah dalam Fatawa al- Lajnah) Nabi Muhammad di dalam hadisnya yang sahih telah melarang membuat gambar setiap makhluk yang
bernyawa, baik manusia atau pun hewan. Oleh karena itu Anda tidak boleh mengirimkan foto diri Anda kepada istri Anda atau siapa pun.

PERTANYAAN 2

Apakah hukumnya jika seorang perempuan mengenakan beha (kutang atau bra) ?
JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa al- Lajnah) Banyak perempuan yang memakai beha untuk mengangkat payudara mereka supaya mereka terlihat menarik dan lebih muda seperti seorang gadis. Memakai beha untuk tujuan ini hukumnya haram. Jika beha dipakai untuk mencegah rusaknya payudara maka ini dibolehkan, tetapi hanya sesuai kebutuhan saja.

PERTANYAAN 3

Apakah hukumnya Saudi Arabia membantu Amerika Serikat dan Inggris untuk berperang melawan Irak? (ini kasus Perang Teluk pertama sewaktu Bush senior jadi Presiden Amerika Serikat)
JAWABAN
Hukumnya adalah boleh (mubah). Alasannya karena (1) Saddam Husein telah menjadi kafir, jadi Saudi Arabia memerangi orang kafir dan bukan seorang Muslim (2) Mencari bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris adalah suatu hal yang mendesak (dharurah) (3) Tentara Amerika sama statusnya dengan tenaga kerja yang dibayar. Tentara Amerika bukanlah aliansi kita, tetapi kita mempekerjakan mereka untuk berada di pihak umat Islam untuk berperang melawan orang kafir (yaitu Saddam Hussein). Tampaknya Lajnah ini mengurus
banyak hal, dari beha hingga perang teluk. Yang menyedihkan adalah fatwa-fatwa itu tampak berasal dari kondisi absennya rasionalitas yang cukup akut. Lenyapnya akal sehat untuk jangka waktu yang cukup lama. Fatwa-fatwa di atas juga tidak
menunjukkan adanya koherensi, tidak terlihat dipakainya metode penetapan hukum yang dikembangkan para fuqaha klasik, tidak ada pula pendekatan melalui
kaidah-kaidah fikih, dan tidak ada usul fikih. Yang tersisa hanyalah wacana hukum yang otoritarian. Jadi tidak heran kalau fatwa – fatwa yang keluar tidak bermutu dan tidak ada yang mendengarkan.

Source: ahmadtaufik-ahmadtaufik.blogspot.com

Nasehat bagi Laki Laki

Tag

Akhi… Apa Susahnya Kau Hapus
Akhwat dari Friendlist
Facebookmu?

Akhi…
Bila kita sempatkan diri kita untuk
membaca sejarah hidup para
pendahulu kita yang shalih mulai
dari masa shahabat hingga para
ulama salafi, niscaya kita dapati
akhlak, adab, dan ketegasan
mereka yang menakjubkan. ‘Kan
kita jumpai pula indahnya
penjagaan diri mereka dari aib
dan maksiat. Merekalah orang-
orang yang paling bersegera
menjauhi maksiat. Bahkan, sangat
menjauh dari sarana dan sebab-
sebab yang mendorong kepada
perbuatan maksiat.
Bila kita membaca kehidupan
anak-anak atau para remaja di
masa salaf, niscaya kita dapati
mereka adalah darah-darah muda
yang tampak kecintaannya
terhadap din, semangatnya dalam
membela al-haq, dan sikap
bencinya kepada perbuatan dosa.
Maka, kita dapati mereka di usia
muda, sudah memiliki hafalan Al-
Qur’an, semangat yang besar
untuk berjihad, dan kecerdasan
yang menakjubkan.
Sebaliknya, sungguh sangat sedih
hati ini. Tidakkah kita merasakan
bahwa kaum muslimin saat ini
terpuruk, terhina dan tidak
berdaya di hadapan orang-orang
kafir, padahal jumlah kita banyak?
Lihatlah diri kita! Bandingkan diri
kita dengan para pemuda di masa
salaf! Akhi… saya, antum, kita
semua pernah bermasiat. Namun,
sampai kapan kita bermaksiat
kepada-Nya?
.
Saya tidak mengharamkan antum
berdakwah kepada wanita, karena
Nabi pun berdakwah kepada
wanita!
Saya pun tidak mengharamkan
muslim atau muslimah
memanfaatkan facebook, karena
untuk mengharamkan sesuatu
membutuhkan dalil.
Siapa yang melarangmu
mendakwahi mereka akhi…?
Bahkan, dulu kumasih
berprasangka baik padamu bahwa
kau ‘kan dakwahi teman-teman
lamamu, termasuk para wanita
itu…
Namun, yang terjadi adalah
sebagaimana yang kau tahu
sendiri…
Tak perlu kutulis…
Karena kau pasti tahu sendiri…
.
Catat! Tak kubuka friendlist FB-
mu karena aku tak mencari-cari
aibmu…
Namun, tidakkah kau sadar bahwa
FB itu sangat-sangat terbuka?
Hingga dirimu sendiri yang tak
sadari…
Bahwa tingkah lakumu pada para
akhwat itu,
Dapat dilihat kawan-kawanmu
yang lain, termasuk diriku…
Yang inilah sebab yang
mendorongku menorehkan pena
dalam lembaran-lembaran ini…
Duh….
Betapa sering Allah menutupi aib
seorang hamba…
Namun dirinyalah sendiri yang
membongkar aibnya…
.
Ya Allah…
Kuadukan kesedihan hatiku ini
hanya kepadaMu…
Hanya kepadaMulah kuserahkan
hatiku…
Mudah-mudahan Kau mendengar
doaku…
Dan Kau maafkan kesalahan
kawan-kawanku itu…
Di samping ku terus berhadap
agar Kau pun maafkan diriku…
.
Akhi…
Pernahkah kau baca firman Allah
yang menyinggung “mata yang
berkhianat”?
Baiklah, kita periksa kembali.
Allah berfirman dalam surat Al-
Mukmin: 19
ﻳﻌﻠﻢ ﺧﺎﻳﻨﺔ ﺍﻷﻋﻴﻦ
“Dia mengetahui (pandangan)
mata yang berkhianat”
Nah, apakah yang dimaksud
dengan mata yang berkhianat itu?
Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu
turun di masa para shahabat.
Shahabat Nabilah yang paling
mengerti makna Al-Qur’an karena
mereka hidup bersama Nabi,
langsung mendapat bimbingan
dan pengarahan Nabi. Maka, kini
kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas,
sebagai hadiahku untukmu.
Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas?
Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari
kalangan shahabat Nabi.
Kudapatkan tafsir ini dari Abul
Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam
kitab beliau, ﺫﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ . Ibnu Abbas
berkata
ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻓﺘﻤﺮ ﺑﻬﻢ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ
ﻓﻴﺮﻳﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﻐﺾ ﺑﺼﺮﻩ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﺭﺃﻯ
ﻣﻨﻬﻢ ﻏﻔﻠﺔ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﺧﺎﻑ ﺃﻥ
ﻳﻔﻄﻨﻮﺍ ﺇﻟﻴﻪ ﻏﺾ ﺑﺼﺮﻩ ﻭﻗﺪ ﺍﻃﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ
ﻭﺟﻞ ﻣﻦ ﻗﻠﺒﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﻮﺩ ﺃﻧﻪ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻰ
ﻋﻮﺭﺗﻬﺎ
“Seseorang berada di tengah
banyak orang lalu seorang wanita
melintasi mereka. Maka, ia
memperlihatkan kepada kawan-
kawannya bahwa IA MENAHAN
PANDANGANNYA DARI WANITA
TERSEBUT. Jika ia melihat mereka
lengah, ia pandangi wanita
tersebut. Dan jika ia khawatir
kawan-kawannya memergokinya, ia
menahan pandangannya. Padahal,
Allah ‘azza wa jalla mengetahui
isi hatinya bahwa ia ingin melihat
aurat wanita tersebut .”
.
Camkan itu akhi…!
Kita sudah lama mengenal Islam…
Kita sudah lama ngaji…
Apakah seseorang yang sudah
lama ngaji pantas seperti itu?
Inginkah akhi dikenal manusia
sebagai pemuda yang shalih…
Yang senantisa menundukkan
pandangan di alam nyata…
Namun kau berkhianat dengan
matamu…
Kau tipu kawan-kawanmu yang
berprasangka baik kepadamu…
Tidakkah ‘kau malu kepada
Allah…
Yang melihatmu di kala tiada
orang lain di sisimu selain
laptopmu, komputer, atau HP-mu?
Yang dengan laptopmu kau bisa
pandangi wanita sesuka hatimu…?
Yang komputermu kau bisa sapai
mereka sepuasmu..?
Yang HP-mu kau bisa berbincang-
bincang dengan mereka
sekehendakmu…?
.
Akhi…
Janganlah ‘kau marah padaku…
Marahlah pada Ibnu Abbas jika
kau mau…
Karena dialah yang menjelaskan
arti mata khianat kepadaku…
.
Akhi…
Jika kau malu bermaksiat di
hadapan kawan-kawanmu, apalagi
di hadapan para wanita itu…
Ketahuilah bahwa
ﻗﻠﺔ ﺣﻴﺎﺋﻚ ﻣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻭﻋﻠﻰ
ﺍﻟﺸﻤﺎﻝ ﻭﺃﻧﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ
ﺍﻟﺬﻧﺐ
“Sedikitnya rasa malumu terhadap
siapa yang berada di sebelah
kanan dan sebelah kirimu, saat
kamu melakukan dosa, itu lebih
besar daripada dosa itu sendiri!”
Eits… sebentar akhi, jangan
marah dulu. Itu di atas bukan
ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu
Abbas! Silakan lihat di ﺫﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ
halaman 181.
.
Akhi…
Apakah engkau masih sempat-
sempanya tertawa, melempar
senyum pada akhwat itu, meski
sebatas:
simbol ^__^
atau kata-kata: xii…xiii..xii..,
atau: hiks..hiks…hiks…,
atau: hiii..hi..hi..,
atau: ha..ha..ha…,
atau: so sweet ukhti…,
atau sejenisnya yang kau tulis di
wall-wall atau ruang komentar
Facebook para akhwat itu!
Maka, Ketahuilah bahwa
ﻭﺿﺤﻜﻚ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﺪﺭﻱ ﻣﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺎﻧﻊ ﺑﻚ
ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﺐ
“Tertawa saat kamu tidak tahu
apa yang akan Allah perbuat
terhadapmu, ITU LEBIH BESAR
DARIPADA DOSA ITU SENDIRI!”
dan juga
ﻭﻓﺮﺣﻚ ﺑﺎﻟﺬﻧﺐ ﺇﺫﺍ ﻇﻔﺮﺕ ﺑﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ
ﺍﻟﺬﻧﺐ
“Kegembiraanmu dengan dosa
ketika kamu melakukannya, ITU
LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU
SENDIRI”
Afwan akhi jika antum mulai
emosi (semoga tidak). Jangan lihat
saya karena dua kalimat di atas
bukan ucapan saya, tetapi ucapan
Ibnu Abbas pula, afwan.
.
Akhi…
Kalau antum masih bermudah-
mudahan dalam berfacebook ria
dengan para wanita itu,
Ketahuilah bahwa antum adalah
pengecut!
Karena kalau kau berani, kau kan
temui ayahnya dan kau pinang
dirinya…
Kalaupun hartamu tidak
mendorongmu untuk itu…
Kau tetap pengecut karena kau
hanya “tunjukkan perhatian”…
Sementara kau tidak berani “maju
melangkah”…
Jika kau mampu tahan
pandanganmu dari “bunga-
bunga” facebook itu, barulah kau
ini seorang pemberani!
Sabar dulu akhi, jangan marah
dulu. Siapa saya? Saya ini masih
sama-sama belajar seperti antum,
atau malah saya masih tergolong
anak “baru ngaji”. Namun, mohon
jikalau akhi menolak ucapan saya,
perhatikanlah untaian kata yang
dikutip Ibnul Jauzi di bawah ini..
ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺸﺠﺎﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﻤﻲ ﻣﻄﻴﺘﻪ …
ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻨﺰﺍﻝ ﻭﻧﺎﺭ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﺗﺸﺘﻌﻞ
ﻟﻜﻦ ﻓﺘﻰ ﻏﺾ ﻃﺮﻓﺎ ﺃﻭ ﺛﻨﻰ ﺑﺼﺮﺍ … ﻋﻦ
ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻓﺬﺍﻙ ﺍﻟﻔﺎﺭﺱ ﺍﻟﺒﻄﻞ
Pemberani bukanlah orang yang
melindungi tunggangannya
Pada saat peperangan, ketika api
berkobar
Akan tetapi, pemuda yang
menahan padangannya dari yang
diharamkan…
Itulah prajurit yang ksatria!
Akhi…
Sekali lagi, kalau kau tersinggung
dengan ucapanku. Mohon
janganlah kau lihat siapa saya,
kawanmu ini. Saya tidak ada apa-
apanya. Namun, sekali lagi,
kumohon lihatlah siapa orang
yang perkataannya kuhadirkan
padamu. Salaf memberi nasehat
kepada kita dengan untaian
katanya di bawah ini:
ﻓﺘﻔﻬﻢ ﻳﺎ ﺃﺧﻲ ﻣﺎ ﺃﻭﺻﻴﻚ ﺑﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺑﺼﺮﻙ
ﻧﻌﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻼ ﺗﻌﺼﻪ ﺑﻨﻌﻤﻪ
ﻭﻋﺎﻣﻠﻪ ﺑﻐﻀﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺗﺮﺑﺢ ﻭﺍﺣﺬﺭ ﺃﻥ
ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺳﻠﺐ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﻭﻛﻞ
ﺯﻣﻦ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺾ ﻟﺨﻄﺔ ﻓﺈﻥ ﻓﻌﻠﺖ
ﻧﻠﺖ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﺠﺰﻳﻞ ﻭﺳﻠﻤﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ
ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ
“Pahamilah wahai saudaraku apa
yang aku pesankan kepadamu…
Penglihatanmu tidak lain adalah
nikmat dari Allah atasmu…
Janganlah mendurhakai-Nya
dengan menggunakan nikmat-
Nya….
Perlakukanlah penglihatan
tersebut dengan menahannya dari
yang haram,
Maka kamu beruntung.
Jangan sampai engkau mendapat
sangsi berupa hilangnya
kenikmatan itu.
Waktu berjihad untuk menahan
pandangan adalah sejenak.
Jika kau melakukannya, kau ‘kan
dapatkan kebaikan yang banyak,
dan selamat dari keburukan yang
panjang.”
[lihat ﺫﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ , karya ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﻋﺒﺪ
ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ , hal.
143 ]
Akhi…
Sekali lagi, demi Allah, saya tidak
melarangmu untuk berdakwah,
termasuk dakwah kepada wanita.
Sudah kuterangkan di atas bahwa
Nabi pun berdakwah kepada
wanita.
Namun, wahai akhi…
Antum memiliki kewajiban yang
besar sebelum antum berdakwah,
yaitu ilmu! Sudahkah kita
berdakwah dengan ilmu? Akhi ini
kutujukan pula untuk diriku:
Manakah waktu yang lebih banyak
kita habiskan? Mendakwahi
wanita itu, atau waktu kita dalam
mengikuti majelis ilmu? Silakan
kita jawab sendiri.
.
Akhi…
Laki-laki memang tidak dilarang
bahkan bisa diwajibkan
mendakwahi wanita, sebagaimana
yang Nabi dan para shahabat
lakukan…
Namun, mendakwahi mereka tidak
harus lewat facebook kan? Antum
bisa membuat blog/webiste yang
dari situ antum bisa menulis
risalah. Antum bahkan bisa
berbicara di alam nyata jika
diperlukan, selama tidak ada
khalwat. Namun, tidakkah kita
ingat bahwa para shahabat
menimba ilmu dari istri Nabi
tidak berhadapan langsung, tetapi
di balik tabir?
Jika ingin berdakwah, antum bisa
menukilkan artikel bermanfaat,
lalau kau cantumkan di
facebookmu.. Antum juga bisa
membuat page, atau grup yang
dengannya kau bisa kirimkan
artikel kepada kaum muslimin
atau muslimah sehingga bisa
membaca nasehatmu. Itu saja!
Lalu kau log-out dari FB. Selesai
kan? TANPA KITA HARUS
MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan
berbincang-bincang dengannya.
Akhi… di saat antum akan
mendakwahi wanita, di saat itu
pula antum harus menjaga diri
antum untuk jauh.. menjauh
sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!
Tidak ingatkah akhi bahwa para
shahabat ketika ingin menimba
ilmu kepada para istri nabi,
mereka lakukan di balik tabir? Di
balik tabir akhi…! Bukan melihat
wajah-wajah wanita yang kau add
di facebookmu itu!
.
Akhi…
Jangan kau anggap ini kaku. Kalau
akhi tidak percaya. Silakan periksa
sendiri. Demi Allah, silakan
periksa sendiri para akhwat
teman-teman lama antum ketika
di SLTP / SMU dulu, termasuk di
kampusmu yang kau add di FB-
mu.
Berapa di antara mereka yang
menerima nasehatmu dalam
praktik yang nyata?
Hingga para akhwat tersebut
memakai hijabnya…
Menutupi wajahnya dari
pandanganmu…
Meninggalkan maksiat-maksiat
karena menrima nasehatmu..
Atau akhwat-akhwat itu hanya
katakan,
“Subhanallah akhi…,
bagus sekali nasehatnya….,
izin share ya….
Saya di-tag dong…
Kok ana tidak di-tag akhi…?
Makasih ya bang telah di-tag…
Jangan bosan-bosan nasehatin
ana…”
Bah! Jangan terburu-buru kau
biarkan hatimu berbunga-bunga
dengan kata-kata di atas akhi,
karena
ﻭ ﺧﻠﻖ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺿﻌﻴﻔﺎ
“Manusia itu diciptakan dalam
keadaan lemah”
(Q.S. An-Nisa’: 28)
maka ingatlah bahwa jika akhwat
itu bisa berkata-kata lembut
kepadamu, padahal dia bukan
istrimu, tentu dia pun akan
bersikap demikian pada laki-laki
lain, selain dirimu!
ﺃﻓﻖ ﻳﺎ ﻓﺆﺍﺩﻱ ﻣﻦ ﻏﺮﺍﻣﻚ ﻭﺍﺳﺘﻤﻊ …
ﻣﻘﺎﻟﺔ ﻣﺤﺰﻭﻥ ﻋﻠﻴﻚ ﺷﻔﻴﻖ
ﻋﻠﻘﺖ ﻓﺘﺎﺓ ﻗﻠﺒﻬﺎ ﻣﺘﻌﻠﻖ … ﺑﻐﻴﺮﻙ
ﻓﺎﺳﺘﻮﺛﻘﺖ ﻏﻴﺮ ﻭﺛﻴﻖ
Sadarlah wahai hati dari
kasmaranmu, dan dengarkan!
Ucapan kesedihan dan kasihan
kepadamu…
Kamu terpikat dengan gadis yang
hatinya terpikat dengan selainmu!
.
Akhi….
Sebelum kau terpukau dengan
gaya bahasa para akhwat itu,
ingatlah bahwa Nabi memberikan
peringatan kepada kita
ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺖ ﺑﻌﺪﻱ ﻓﺘﻨﺔ ﺃﺿﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ
ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ
”Aku tidak meninggalkan
sepeninggalku suatu fitnah yang
lebih berbahaya bagi kaum laki-
laki ketimbang wanita”
[ H.R Bukhari dan Muslim ]
.
Akhi…
Apakah kau tidak merasakan
kesedihan sebagaimana yang
kurasakan? Akhi… Bagaimana
mata ini tidak mengalir di saat
kita baca pesan istri Nabi, Aisyah,
berkata,
ﻟﻮ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﺭﺃﻯ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻟﻨﻬﺎﻫﻦ ﻋﻦ
ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺃﻭ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ
“Seandainya Rasulullah melihat
apa yang diperbuat kaum wanita
pada hari ini, niscaya beliau
melarang mereka keluar rumah
atau mengharamkan mereka
keluar rumah”
[lihat beserta sanadnya di ﺫﻡ
ﺍﻟﻬﻮﻯ , karya ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ
ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ , hal. 154][1]
Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna…
.
Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu
‘anha) mengatakan demikian?
Kapan…? Kapan…? Lebih dari
seribu tahun yang lalu, akhi, di
saat Islam masih di puncak
kejayaannya, di saat para
shahabat yang menerima
langsung pengajaran nabi masih
hidup.
.
Duhai Ibunda, Aisyah….
Kau katakan demikian…
di kala Nabi belum lama wafat
meninggalkan dirimu…
di kala para shahabat terbaik
masih hidup di antaramu..
Kau katakan demikian…
di kala para wanita masih tutupi
dirinya dengan hijab kemuliaan
Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan
kau katakan…
Jika kau hidup di masa kami…
Di saat kami tenggelam dalam
kotornya dunia…
Di saat manusia menghiasi
dirinya dengan tipisnya rasa
malu…
Di saat kaum wanita ceburkan
dirinya dalam alam tabu…
.
Maka, demikian pula Engkau
wahai saudariku muslimah! Jikalau
tulisan ini sampai kepadamu,
mengapa tidak kau katakan
kepada kami, para laki-laki, suatu
ucapan yang kami justru bangga
mendengarnya jika kau ucapkan:
ﺇﻟﻴﻚ ﻋﻨﻲ! ﺇﻟﻴﻚ ﻋﻨﻲ ! … ﻓﻠﺴﺖ ﻣﻨﻚ ﻭ
ﻟﺴﺖ ﻣﻨﻲ
Menjauhlah kau dariku…!
Menjauhlah kau dariku…!
Karna aku bukan milikmu…
Dan kau pun bukan bagian dari
ku…
Ya ukhti…
Mengapa mau add, atau kau
terima permintaan pertemanan
facebook dengan para laki-laki,
sementara ia bukan milikmu?
Belumkah kau ketahui tahu bahwa
ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺍﻟﻨﺎﻇﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ
ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺴﺒﺎﻉ ﺗﻄﻮﻑ ﺑﺎﻟﻠﺤﻤﺎﻥ
ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺼﻦ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻠﺤﻮﻡ ﺃﺳﻮﺩﻫﺎ
ﺃﻛﻠﺖ ﺑﻼ ﻋﻮﺽ ﻭ ﻻ ﺃﺛﻤﺎﻥ
Laki-laki ketika melihat wanita…
Seperti bintang buas ketika
melihat daging…
Jika daging-daging itu tidak
disimpan dengan rapi…
Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi
apapun dan tanpa harga…
.
Ya ukhti…
Belumkah sampai kepadamu
pesan Nabi kita?
ﻳﺎ ﻣﻌﺸﺮ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺗﺼﺪﻗﻦ ﻭﺃﻛﺜﺮﻥ
ﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻓﺈﻧﻲ ﺭﺃﻳﺘﻜﻦ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ
“Wahai kaum wanita,
bersedekahlah kalian dan
perbanyaklah istighfar!
Sesungguhnya aku melihat kalian
sebagai penghuni mayoritas di
neraka.
(H.R. Muslim: 132)
Wahai ukhti…
Tidakkah kau ingat bahwa kau
pun diperintah untuk menahan
pandanganmu?
ﻭﻗﻞ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﺎﺕ ﻳﻐﻀﻀﻦ ﻣﻦ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻦ
ﻭﻳﺤﻔﻈﻦ ﻓﺮﻭﺟﻬﻦ ﻭﻻ ﻳﺒﺪﻳﻦ ﺯﻳﻨﺘﻬﻦ ﺇﻻ
ﻣﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻟﻴﻀﺮﺑﻦ ﺑﺨﻤﺮﻫﻦ ﻋﻠﻰ
ﺟﻴﻮﺑﻬﻦ
“Katakanlah kepada wanita yang
beriman, “Hendaklah mereka
menahan pandangan mereka, dan
memelihara kemaluan mereka!
Dan janganlah mereka
menampakkan perhiasan mereka
kecuali yang (biasa) nampak dari
mereka! Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke dada
mereka!”
(Q.S. An-Nuur: 31)

Bahaya Belajar Tanpa Guru

Imam Abu Hayyan Al Andalusyberkata :

ﻭﻗَﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣَﻴﺎﻥ ﺍﻷﻧﺪﻟﺴِﻲ : ﻳﻈﻦّ ﺍﻟﻐُﻤْﺮُ ﺃﻥ ﺍﻟﻜُﺘْﺐَ ﺗَﻬﺪﻱ ## ﺃﺧَﺎ ﺟَﻬﻞٍ ﻹﺩْﺭﺍﻙِﺍﻟﻌُﻠﻮﻡِﻭﻣَﺎ ﻳَﺪﺭﻱ ﺍﻟﺠﻬﻮﻝُ ﺑﺄﻥّ ﻓِﻴﻬﺎ ## ﻏَﻮﺍﻣِﺾ ﺣَﻴّﺮﺕ ﻋَﻘﻞَﺍﻟﻔﻬﻴﻢِ  ﺇﺫﺍ ﺭُﻣﺖ ﺍﻟﻌُﻠﻮﻡَ ﺑﻐﻴﺮِ ﺷﻴﺦٍ ## ﺿﻠﻠﺖَ ﻋَﻦ ﺍﻟﺼِﺮﺍﻁﺍﻟﻤُﺴﺘﻘِﻴﻢ ﻭﺗﻠﺘَﺒِﺲُ ﺍﻷﻣُﻮﺭُ ﻋﻠﻴﻚَ ﺣَﺘﻰ ## ﺗﺼﻴﺮَ ﺃﺿﻞَّ ﻣِﻦ ﺗُﻮﻣﺎﺍﻟﺤَﻜﻴﻢ

Khalayak ramai menyangka bahwa kitab-kitab itu dapat menuntun orang bodoh untuk menggapai ilmu padahal orang yang amat bodoh tidak tahu bahwa di dalam kitab kitab itu banyak masalah rumit yang membingungkan akal orang cerdas.Apabila engkau mencari ilmu tanpa guru maka engkau dapat tersesat dari jalan yang lurus.Maka segala hal yang berkaitan akan menjadi samar buatmu hingga engkau menjadi lebih sesat dibanding si Thomas (Ahli filsafat). (hasyiyah Al Thalib ibnu Hamdun ala lamiyatal ‘af’al hal 44)

8 ‘Mantra Islami’Penyembuhan Penyakit dan Perlindungan Tubuh

Tag

“Mantra-mantra Islami” untuk kesembuhan dari penyakit sebagai bentuk usaha dan harapan seorang hamba kepada Allah, serta sebagai perlindungan diri dari berbagai hal yang membahayakan. Dinukil dari kitab Tafsir Al Kabir karya Imam Fakhruddun Ar Razy :

Pertama :pernah suatu kali Rasululloh Saw. mengadu kemudian malaikat Jibril ‘alaihis salam meruqiyahnya dengan bacaan :

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻗﻴﻚ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻳﺆﺫﻳﻚ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺸﻔﻴﻚ

Bismillaahi Arqiik min Kulli Syai-in Yu’dziik, Wallahu Yasyfiik

Kedua : Rasulullah pernah mengajari para sahabat untuk membaca doa dari segala rasa sakit dan sakit panas:

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ، ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﻣﻦ ﺷﺮ ﻛﻞ ﻋﺮﻕ ﻧﻌﺎﺭ ، ﻭﻣﻦ ﺷﺮ ﺣﺮ ﺍﻟﻨﺎﺭ

Bismillahil Kariim, A’udzubillahil ‘Adziim min Syarri kulli ‘Irqin Na’aar, wa min Syarri Harrin Naar.

Ketiga: Nabi pernah bersabda :
“Barang siapa membaca kalimat berikut sebanyak tujuh kali kepada orang yang sakit dan belum datang ajalnya maka akan disembuhkan.”

ﺃﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺃﻥ ﻳﺸﻔﻴﻚ ﺳﺒﻊ ﻣﺮﺍﺕ ﺷﻔﻲ

As-alullahal ‘Adziim, Rabbil ‘Arsyil ‘Adziim an Yasyfiik.

Keempat : diantara yang pernah dibaca Rasulullah Saw. ketika mengunjungi orang sakit ,

ﺃﺫﻫﺐ ﺍﻟﺒﺎﺱ ﺭﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﺷﻒ ﺃﻧﺖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻲ ، ﻻ ﺷﺎﻓﻲ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ

Adzhibil Ba’s Rabban Naas, Isyfi Antas-Syafii, Laa Syafiya ilaa Anta

Kelima : Rasulullah memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain sebagaimana yang dibacakan oleh Nabi Ibrahim kepada kedua putranya Nabi Ismail dan Nabi Ishaq:
ﺃﻋﻴﺬﻛﻤﺎ ﺑﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻴﻄﺎﻥ ﻭﻫﺎﻣﺔ ، ﻭﻣﻦ ﻛﻞ ﻋﻴﻦ ﻻﻣﺔ

U’idzukumaa bi-Kalimatillahit Tammah min kulli Syaithonin Wahaammah, wa min kulli ‘Ainil Laammah.
Keenam: seorang sahabat mengadukan suatu penyakit kepada Rasulullah Saw. kemudian beliau menyuruh sahabat tersebut membaca kalimat sebanyak tujuh kali dan tangan kanan diletakkan pada tempat yang sakit maka Allah menyembuhkan penyakitnya, kalimat tersebut adalah :

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﻌﺰﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﺗﻪ ﻣﻦ ﺷﺮ ﻣﺎ ﺃﺟﺪ

Bismillahi A’dzubi bi-‘Izzatillahi wa Qudratihi min syarri maa Ajidu

Ketujuh : ketika Rasulullah bepergian dan turun pada suatu tempat maka Rasulullah mengucapkan :

ﻳﺎ ﺃﺭﺽ ، ﺭﺑﻲ ﻭﺭﺑﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﻙ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻓﻴﻚ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻨﻚ ، ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻳﺪﺏ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﺳﺪ ﻭﺃﺳﻮﺩ ﻭﺣﻴﺔ ﻭﻋﻘﺮﺏ ، ﻭﻣﻦ ﺷﺮ ﺳﺎﻛﻨﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﻭﺍﻟﺪ ﻭﻣﺎ ﻭﻟﺪ

Yaa Ardlu, Rabbii wa Rabbukillahi, A’udzubillahi min Syarrik, wa Syarri maa Fiik, wa Syarri maa Yakhruju minki, wa Syarri maa Yadubbu ‘Alaiki, wa A’udzubillahi min Asadin wa Aswadi wa Hayatin wa ‘Aqrabin, wa min Syarri Saakinil Balad wa Waalad
wa maa Walaad

 

Kedelapan : ketika Rasulullah mengeluhkan sesuatu pada jasadnya maka beliau membaca Qul Huwaallahu Ahad (al-Ikhlas) dan Mu’awwidatain (al-Falaq dan An-
Naas) pada telapak tangannya kemudian mengusapkan pada tempat yang dikeluhkan. Teks Arabic :

ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﺷﺘﻜﻰ ﻓﺮﻗﺎﻩ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻗﻴﻚ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻳﺆﺫﻳﻚ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺸﻔﻴﻚ .
ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ : ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ : ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻌﻠﻤﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﺟﺎﻉ ﻛﻠﻬﺎ ﻭﺍﻟﺤﻤﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ : ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ، ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﻣﻦ ﺷﺮ ﻛﻞ ﻋﺮﻕ ﻧﻌﺎﺭ ، ﻭﻣﻦ ﺷﺮ ﺣﺮ ﺍﻟﻨﺎﺭ .
ﻭﺛﺎﻟﺜﻬﺎ : ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ﻣﻦ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺮﻳﺾ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﺃﺟﻠﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺃﻥ ﻳﺸﻔﻴﻚ ﺳﺒﻊ ﻣﺮﺍﺕ ﺷﻔﻲ
ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ : ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﻣﺮﻳﺾ ﻗﺎﻝ : ﺃﺫﻫﺐ ﺍﻟﺒﺎﺱ ﺭﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﺷﻒ ﺃﻧﺖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻲ ، ﻻ ﺷﺎﻓﻲ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ .
ﻭﺧﺎﻣﺴﻬﺎ : ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻌﻮﺫ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻋﻴﺬﻛﻤﺎ ﺑﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻴﻄﺎﻥ ﻭﻫﺎﻣﺔ ، ﻭﻣﻦ ﻛﻞ ﻋﻴﻦ ﻻﻣﺔ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ : ﻫﻜﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻲ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻳﻌﻮﺫ ﺍﺑﻨﻴﻪ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ .
ﻭﺳﺎﺩﺳﻬﺎ : ﻗﺎﻝ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻌﺎﺹ ﺍﻟﺜﻘﻔﻲ : ﻗﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﻲ ﻭﺟﻊ ﻗﺪ ﻛﺎﺩ ﻳﺒﻄﻠﻨﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﺟﻌﻞ ﻳﺪﻙ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻗﻞ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﻌﺰﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﺗﻪ ﻣﻦ ﺷﺮ ﻣﺎ ﺃﺟﺪ ﺳﺒﻊ ﻣﺮﺍﺕ ، ﻓﻔﻌﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺸﻔﺎﻧﻲ ﺍﻟﻠﻪ .
ﻭﺳﺎﺑﻌﻬﺎ : ﺭﻭﻱ ﺃﻧﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺳﺎﻓﺮ ﻓﻨﺰﻝ ﻣﻨﺰﻻ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﺃﺭﺽ ، ﺭﺑﻲ ﻭﺭﺑﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﻙ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻓﻴﻚ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻨﻚ ، ﻭﺷﺮ ﻣﺎ ﻳﺪﺏ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﺳﺪ ﻭﺃﺳﻮﺩ ﻭﺣﻴﺔ ﻭﻋﻘﺮﺏ ، ﻭﻣﻦ ﺷﺮ ﺳﺎﻛﻨﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﻭﺍﻟﺪ ﻭﻣﺎ ﻭﻟﺪ
ﻭﺛﺎﻣﻨﻬﺎ : ﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ : ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺍﺷﺘﻜﻰ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺟﺴﺪﻩ ﻗﺮﺃ : ‏( ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ‏) ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ ﻓﻲ ﻛﻔﻪ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﻭﻣﺴﺢ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻜﻲ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﺨﺮ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ

 

red. Ibnu Manshur
Sumber : Pustaka Ilmu Sunni
Salafiyah – KTB

Sya’ir Tentang Orang Berilmu

ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺨـﻼﺋـﻖُ ﻛﻠـُﻬـﻢ ﺃﻛـﻔـــــــﺎﺀُ ***
ﻻﻳﺴﺘﻮﻱ ﺍﻟﺠﻬّﺎﻝ ﻭﺍﻟﻌـــﻠـﻤــــــﺎﺀُ
ﻻﻳﺴﺘــﻮﻱ ﺟﻨـّﺎﺕُ ﻓﻴـﻬـﺎ ﻛـﻠـــﻤــﺎ ***
ﺗـﻬـﻮﻯ ﺍﻟﻨـﻔـﻮﺱ ﺇﻟـﻴـﻪ ﻭﺍﻟﺼﺤــﺮﺍﺀُ
ﺩﻭﻣـﺎً ﻳﻤﻮﺕ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠـﻮﻥ ﺑﺠﻬﻠﻬـــﻢ ***
ﻭﺍﻟﻌﺎﻟـــﻤـﻮﻥ ﺑﻌﻠﻤــﻬـــﻢ ﺃﺣﻴــــــﺎﺀُ
ﻓـﺎﻟﻌﺎﻟـﻤﻮﻥ ﺍﻟﻌﺎﻣـﻠـﻮﻥ ﺑﻌﻠﻤـﻬـــﻢ ***
ﺑـﺎﻗـﻮﻥ ﻣـﺎ ﺑﻘﻴﺖ ﻫﻨـﺎﻙ ﺳـﻤـــــﺎﺀُ
ﻓﻬُﻢُ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ ﺍﻟﺘﻲ ﻧُﺒﺼﺮ ﺑﻬـــــﺎ *** ﺇﻥ
ﺩﺍﻫـﻤـﺘـﻨـﺎ ﻟـﻴﻠـﺔ ﻇﻠـﻤــــــــــﺎﺀُ
ﻭﻫــﻢ ﺍﻟﻐﻴـﺎﺙ ﻟـﻨـﺎ ﺑـﻜـﻞ ﻣُـﻠِـﻤّـﺔٍ *** ﺇﺫ
ﻟـﻸﺋِـﻤـﺔ ﻫُـﻢ ﻟـﻬـﻢ ﻭﻛـــــــــﻼﺀُ

Muhammadiyah dan Ibnu Taimiyah

Muslimedianews.com ~ Semua orang
mengakui kehebatan Ibn Taimiyah,
bahkan sangat men-idolakanya,
sampai-sampai lupa bahwa Ibn
Taimiyah itu ternyata manusia
biasa. Ibn Taimiyah di anggab
sebagai pembaharu Islam, sampai-
sampai kalangan cendikiawan
Muhammadiyah meng-identifikasan
bawa KH Ahmad Dahlan itu
mengikuti pemikiran dan
terpenggaruh pemikiranya.
Berbagai buku-buku klasik dan
modern, selalu mejadikan Ibn
Taimiyah, Muhammad Abduh, Al-
Afgani sebagai tokoh-tokoh sentral
perubahan dan tajdid dalam islam.
KH Ahmad Dahlan di anggab sosok
pembaharu di Indonesia yang
berusaha memurnikan ajaran islam
sesuai dengan Al-Quran dan sunnah
Rosulullah SAW. KH Ahmad Dahlan
di anggab sebagai penggerak utama
di dalam mememerangi kesyirikan,
bidah (mengad-ngada), khurafat dan
tahayyul. Yang terkenal dalam istilah
orang Muhammadiyah dengan TBC
(Tahayyul, Bidah, dan Khurafat).
Karena begitu kentalnya doktrin TBC
kepada warga Muhammadiyah,
sampai-sampai orang-orang yang
masih bergumul dengan Islam
Abangan tidak mendapat tempat di
Muhammadiyah. Bahkan, orang-
orang yang masih suka berziarah
kubur, tahlilan, manakiban,
tawassulan, membaca barzanji, dan
maulidan juga di anggab mengikuti
aliran TCB, dengan kata lain ahli
Neraka
Padahal realitas di lapangan orang-
orang Muhammadiyah terdiri dari
empat kelompok (1) Islam Murni
Pengikut setia KH Ahmad Dahlan (2)
Munu (Muhammadiyah NU), (2)
Munas (Muhammadiyah Nasionalis
(4) Marmud (Muhammadiyah-
Marhaenis).[1]
Kelompok yang pertama inilah yang
bermasalah, artinya merasa paling
benar, sesuai dengan ajaran Al-
quran dan Hadis, sementara yang
lain tidak sesuai dengan Al-Quran
dan hadis. Karena pemahaman
merasa lebih baik dan paling benar
itu yang salah kaprah. Tidak heran
jika kelompok lain yang mengikuti
tahlilan, selamatan, istigosahan,
maulidan dan membaca mauled Nabi
SAW dikatakan sebagai ahli bidah.
Bahkan, sampai membaca lafadz
Usolli sebelum takbiratul Ihram, dan
membaca qunut subuh juga di
anggab bidah (mengad-ngada),
karena tidak diajarakan oleh
Rosulullah SAW. Padahal KH Ahmad
Dahlan sendiri itu juga melakukan
maulidan, tahlilan, membaca Usolli,
serta membaca qunut subuh. Ini
jelas-jelas salah faham memahami
ajaran yang islam.
KH Ahmad Dahlan memang dalam
masalah gerakan islam sedikit
terpenggaruh oleh bacaan-bacaan
kitab-kitab dan majalah Al-Manar.
Sebab, kondisi Nusantara waktu
masih memang masih dalam
gengaman Belanda. Bukan hanya KH
Ahmad Dahlan, Syekh Nawawi Al-
Bantani, KH Hasyim Asaary juga
berfikir dan membagun sebuah
gerakan melawan Belanda agar umat
Islam di Nusantara bisa merdeka,
bebas menjalankan ajaran Islam
dengan sebaik-baiknya. Bahkan,
gerakan itu sudah di awali oleh
ulama-ulama nusantara yang
bermukim di Makkah. Mereka
mendirikan sebuah sekolah yang
diberi nama Madrasah Darul Ulum
Al-Diniyah. Salah satu pendirinya
ialah Syekh Muhammad Yasin Al-
Fadani di Makkah.
Dengan demikian, KH Ahmad Dahlan
itu sangat toleransi terhadap budaya
dan tradisi Jawa. Secara akidah dan
madzhab beliau tidak berubah,
yaitu berteologi Abu Hasan Al-
Asyaary dan mengikuti madzhab Al-
Syafii, dan termasuk seorang sufi.
Beliau juga ingin mencerdaskan
umat islam Indonesia melalui
pendekatan pendidikan formal, serta
dunia kesehatan serta
mempedayakan ekonomi.
Sedangkan jika di katakana jika KH
Ahmad Dahlan terpenggaruh
pemikiran Ibn Taimiyah, Muhammad
Abduh bisa dikatakan tidak
sepenuhnya benar. Sebab, ajaran
Ibn Taimiyah, yang kemudian
menjadi sebuah gerakan Wahabi
yang dipromotori langsung oleh
Syekh Abdul Wahab itu ialah
memurnikan islam dalam segi
akidah. Sampai-sampai semua kitab
akidah yang tidak sesuai dengan
akidahnya Syekh Abdul Wahab di
katakan keluar dari Al-Quran dan
sunnah.
Jika melihat dari gerakan yang
dilakukan oleh Syekh Abdul Wahab
(wahabisme) yang akarnya dari Ibn
Taimiyah, maka KH Ahmad Dahlan
bukan termasuk di dalamnya. Sebab,
KH Ahmad Dahlan juga sosok yang
belajar dan mendalami tasawuf.
Tasawuf bagi Ibn Taimiyah dan
kaum Wahabisme merupakan sumber
kesesatan. Pada ahirnya, Ibn
Taimiyah itu ahirnya bertoubat dari
apa yang selama itu diyakini dan di
ajarkan kepada masyarakat waktu
itu.
Beberapa fatwa Ibn Taimiyah yang
kontroversi, sekaligus menyulut
kemarahan ulama-ulama waktu
antara lain:’
Allah itu memiliku muka.
Allah itu duduk bersila di
atas arsy.
Allah itu ada di atas,
boleh di tunjuk dengan
telunjuk.
Allah itu berjalan di atas
awan.
Terkait dengan nama dan sifat-sifat
Allah SWT di dalam Al-Quran dan
hadis Rosulullah SAW tidak boleh di
ta’wil. Dan barang siapa mentakwil
atau mentafsir ayat Allah SWT, orang
itu tersesat, dikutuk, dan harus
bertaubat kepada Allah SWT.
Ibn Batutah dalam sebuah lawanya,
yang terkenal dalam kitab Rihlan
Ibn Batutah, beliau pernah
menceritakan:’’suatu ketika saat aku
berada di Dimask (Damaskus),
tepatnya pada hari jumat. Ibn
Taimiyah sedang pidato di atas
mimbar Masjid Damsyik (Damasukus)
, di antara ucapanya dikatakan
Tuhan Allah turun kelangit dunia
tiap-tiap malam, seperti turunya
saya ini, lalu ia turun dari Mimbar’’.
Kebetulan waktu itu hadis seorang
ulama fikih yang bernama Ibnu
Zahra’ mendebat Ibn Taimiyah,
karena menyerupakan Allah SWT
dengan dirinya ketika turun dari
Mimbar Masjid.Tetapi murid-murid
Ibn Taimiyah memukul Ibn Zahra
dan membawanya ke Qohi Izzudin
Ibn Muslim (hakim agung) untuk
melaporkan tindakan Ibn Zahra’.
Qodhi Izzudin adalah hakim dalam
madzab Ibn Hambali, sama dengan
madzhabnya Ibn Taimiyah.
Selanjutnya, Qodhi Izzudin
menghukum Ibnu Zahra dan
memasukkan ke dalam penjara dalam
beberapa hari. Melihat Ibn Zahra di
penjara, para ulama fikih
bermadzhab Syafii dan Maliki
memprotes keputusanya. Lanatas
ulama-ulama fikih di atas membawa
perkara ini pada seorang Raja Besar
yang bernama Saifuddin Tankiz.
Ibnu Batuthah mengatakan”’raju itu
orang baik’’. Raja itu memerintahkan
kepada Raja Nastir di Kairo agar
supaya membawa Ibn Taimiyah
kepengadilan tinggi, karena fatwanya
dalam agama banyak yang salah.
Lebih lnjut lanjut lagi Ibnu Batuthah
menceritakan bahwa fatwa Ibn
Taimiyah ialah bahwa talaq tiga
yang dijatuhkan sekaligus jatuh
satu, dan ziarah ke Madinah ke
Makam Nabi Muhammad adalah
maksiat (mungkar) dll.
Atas dasar itulah kemudian Ibn
Taimiyah dipenjara di Dimask
(Damaskus) sampai beliau
memenuhi ajalnya, pada tahun 27
syawwal 728 H.[2]
Prof.Dr. Hasan Hetto ulama
Ahlussunnah Wal Jamaah ketika
sedang melakukan Daurah Al-Tasqif
Al-Syari lil Ulum Al-Islamiyah lil
Baniin bi Indonisia (3-16 Juli 2006),
Beliau pernah menceritakan bawa
dirinya memiliki tulisan tangan
tangan seputar taubatnya Ibn
Taimiyah. Ucapan beliau saya
perhatikan dan kemudian saya cari
bagaimana tulisan seputar
taubatnya Ibn Taimiyah.
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﺘﻘﺪﻩ ﺃﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ
ﻣﻌﻨﻰ ﻗﺎﺋﻢ ﺑﺬﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﺻﻔﺔ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ
ﺫﺍﺗﻪ ﺍﻟﻘﺪﻳﻤﺔ ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻭﻫﻮ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﻠﻮﻕ،
ﻭﻟﻴﺲ ﺑﺤﺮﻑ ﻭﻻ ﺻﻮﺕ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺣﺎﻻ ﻓﻲ
ﻣﺨﻠﻮﻕ ﺃﺻﻼ ﻭﻻ ﻭﺭﻕ ﻭﻻ ﺣﺒﺮ ﻭﻻ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ،
ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﺘﻘﺪﻩ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ: ? ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ
ﺁﻟﻌﺮﺵ ﺁﺳﺘﻮﻯ ? ‏[ ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ‏] ﺃﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ
ﺣﻘﻴﻘﺘﻪ ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ، ﻭﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻛﻨﻪ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ،
ﺑﻞ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺰﻭﻝ
ﻛﺎﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﻴﻪ
ﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﻛﻨﻪ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﺑﻞ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ
ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺣﻘﻴﻘﺘﻪ ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻫﺬﺍ
ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻃﻞ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺧﻄﻲ ﺃﻭ
ﻟﻔﻈﻲ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻃﻞ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ
ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺇﺿﻼﻝ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺃﻭ ﻧﺴﺒﺔ ﻣﺎ
ﻻ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺄﻧﺎ ﺑﺮﻱﺀ ﻣﻨﻪ ﻓﻘﺪ ﺗﺒﺮﺃﺕ
ﻣﻨﻪ ﻭﺗﺎﺋﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺨﺎﻟﻔﻪ ﻭﻛﻞ
ﻣﺎ ﻛﺘﺒﺘﻪ ﻭﻗﻠﺘﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻮﺭﻗﺔ ﻓﺄﻧﺎ ﻣﺨﺘﺎﺭ
ﻓﻰ ﺫﻟﻚ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﺮﻩ.
‏(ﻛﺘﺒﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ‏) ﻭﺫﻟﻚ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ
ﺳﺎﺩﺱ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻵﺧﺮ ﺳﻨﺔ ﺳﺒﻊ
ﻭﺳﺒﻌﻤﺎﺋﺔ.
Artinya:’’ Segala puji bagi Allah
yang aku yakini bahwa di dalam Al-
Quran memiliki makna yang berdiri
dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat
dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang
maha dahulu lagi maha azali dan al-
Quran bukanlah makhluq, bukan
berupa huruf dan suara, bukan
suatu keadaan bagi makhluk sama
sekali dan juga bukan berupa kertas
dan tinta dan bukan yang lainnya.
Dan aku meyakini bahwa firman
Allah Swt ” ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻌﺮﺵ ﺁﺳﺘﻮﻯ
adalah apa yang telah dikatakan
oleh para jama’ah (ulama) yang
hadir ini dan bukanlah istawa itu
secara hakekat dan dhohirnya, dan
aku pun tidak mengetahui arti dan
maksud yang sesungguhnya kecuali
Allah Swt, bukan istawa secara
hakekat dan dhohir seperti yang
dinyatakan oleh jama’ah yang hadir
ini. Semua yang bertentangan
dengan akidah I ni adalah batil.
Dan semua apa yang ada dalam
tulisanku dan ucapanku yang
bertentangan dari semua itu adalah
batil. Semua apa yang telah aku
gtulis dan ucapkan sebelumnya
adalah suatu penyesatan kepada
umat atau penisbatan sesuatu yang
tidak layak bagi Allah Swt, maka aku
berlepas diri dan menjauhkan diri
dari semua itu. Aku bertaubat
kepada Allah dari ajaran yang
menyalahi-Nya. Dan semua yang aku
dan aku ucapkan di kertas ini maka
aku dengan suka rela tanpa adanya
paksaan “Telah menulisnya :
(Ahmad Ibnu Taimiyyah)
Kamis, 6 Rabiul Awwal 707Hijriyah.
Begitulah penjelasan dari Dr. Hasan
Heto seputar taubatnya Syekh Ibn
Taimiyah. Dengan demikian, KH
Ahmad Dahlan tahu yang mana
harus di ikuti dalam ber-teologi,
bermadhab, serta bagaimana ber-
tasawuf sesuai dengan ajaran Al-
Quran dan Sunnah. Adappun sikap
yang dilakukan KH Ahmad Dahlan di
dalam memberantas TBC, KH Ahmad
Dahlan tahu betul makna Tahayyul,
Bidah, Khurafat, karena beliau ahli
bahasa Arab dan betahun-tahun
belajar kepada Syekh Sholih Darat,
Sayed Abu Bakar Shata, Syehk Ahmad
Khatib Minangkabawi. Jangan salah
kaparah memahami pemurnian islam
secara sempit, karena KH Ahmad
Dahlam ulama yang berkualitas ilmu
dan spritualnya.
Ditulis oleh : Ustadz Abdul Adzim
Irsyad
Sumber : http://
http://www.nulebanon.com/?p=2161

Lirik I’tiraf dan Mp3

ﺇِﻟَﻬِﻲ ﻟَﺴْﺖُ ﻟِﻠْﻔِﺮْﺩَﻭْﺱِ ﺃَﻫْﻼً # ﻭَﻻَ ﺃَﻗْﻮَﻯ ﻋَﻠﻰَ
ﻧَﺎﺭِ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴْﻢِ
Wahai Tuhanku, hambaMU ini
tidaklah layak memasuki surga
firdausMU .
dan tidaklah sanggup menahan
siksa api nerakaMU
ﻓَﻬَﺐْ ﻟﻲِ ﺗَﻮْﺑَﺔً ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْ ﺫُﻧُﻮْﺑﻲِ # ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻏَﺎﻓِﺮُ
ﺍﻟﺬَّﻧْﺐِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ
Berilah hambaMU ini ampunan dan
hapuskanlah dosa-dosaku
Sungguh hanya Engkaulah Sang
Maha Pengampun
ﺫُﻧُﻮْﺑﻲِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﻋْﺪَﺍﺩِ ﺍﻟﺮِّﻣَﺎﻝِ # ﻓَﻬَﺐْ ﻟﻲِ ﺗَﻮْﺑَﺔً
ﻳَﺎﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻼَﻝِ
Dosa-dosaku seperti butiran pasir
dipantai
anugerahilah ampunanMU, Wahai
yang Maha Agung
ﻭَﻋُﻤْﺮِﻱْ ﻧَﺎِﻗﺺٌ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻳَﻮْﻡِ # ﻭَﺫَﻧْﺒﻲِ ﺯَﺍﺋِﺪٌ
ﻛَﻴْﻒَ ﺍﺣْﺘِﻤَﺎﻝِ
dan umurku berkurang setiap
harinya
sedang dosa-dosaku terus
bertambah, adakah jalan selamat
bagiku? Ya Allah
ﺇِﻟَﻬِﻲ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﺻِﻲ ﺃَﺗَﺎﻙَ # ﻣُﻘِﺮًّﺍ ﺑِﺎﻟﺬُّﻧُﻮْﺏِ
ﻭَﻗَﺪْ ﺩَﻋَﺎﻙَ
Wahai tuhanku, hambaMU yang
penuh maksiat ini bersimpuh
menghadapMU
mengakui doa-dosanya, memohon
maghfirahMU
ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻓَﺄَﻧْﺖَ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺃَﻫْﻞٌ # ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻄْﺮُﺩْ ﻓَﻤَﻦْ
ﻧَﺮْﺟُﻮْ ﺳِﻮَﺍﻙَ
hanya Engkaulah Sang Pemilik
Ampunan, bila Engkau campakan
aku, kepada siapa dan kemana aku
mesti berharap selain dariMU. Ya
Allah

download mp3 nya dibawah ini

Hadist Qudsi

Hadits qudsiy ialah wahyu yg di
turunkan pada nabi MUHAMMAD
dgn tanpa perantara malaykat
bahkan dgn ilham atau mimpi , ada
kalanya berupa lafazh dan ma’na
dan adakalanya lafazh saja dan
NABI yg mengungkapkan dgn
beberapa lafazh dari dirinya
sendiri yg di nisbatkan pda ALLAH
dan membaca hadits qudsiy tsb
tdk di anggap ibadah dan jga
hadits qudsiy itu tdk mengandung
mu’jizat.
ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻘﺪﺳﻲ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﻭﺍﺳﻄﺔ
ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﺑﻞ ﺑﺎﻟﻬﺎﻡ ﺃﻭ ﻣﻨﺎﻡ ﺇﻣﺎ ﺑﺎﻟﻠﻔﻆ
ﻭﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺇﻣﺎ ﺑﺎﻟﻠﻔﻆ ﻓﻘﻂ ﻳﻌﺒﺮ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺑﺄﻟﻔﺎﻅ ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻩ
ﻭ ﻳﻨﺴﺒﻪ ﺍﻟﻴﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﻟﻠﺘﻌﺒﺪ ﺑﺘﻼﻭﺗﻪ ﻭﻻ
ﻟﻺﻋﺠﺎﺯ .
ﺗﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ : ﺹ : ٥٥١
> Ibnu Al-Ihsany
* al-qowaid al-asasiyah fi ilmi
mustholah al-hadits pengarang :
muhammad bin alwy al-maliki al-
hasani hal. : 16-19
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻘﺪﺳﻲ ﻧﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺪﺱ ،
ﻭﺍﻟﻘﺪﺱ ﻫﻮ : ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﺘﻨﺰﻳﻪ ، ﻭﻳﻄﻠﻖ
ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻹﻟﻬﻲ ﻧﺴﺒﺔ ﻟﻺﻟﻪ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﺍﻟﺮﺑﺎﻧﻲ ﻧﺴﺒﺔ ﻟﻠﺮﺏ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ
Hadits Qudsiy
~~~~~~~~~~~
hadits yang dinisbatkan pada kata
qudus, qudus yaitu ath-thoharoh
(suci) dan at-tanzih
(membersihkan). disebut pula
hadits ilahy dinisbatkan pada ilah
(ketuhanan), dan juga disebut
hadits robbani dinisbatkan pada
Robb (Tuhan) yang maha agung
dan luhur.
ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻹﺻﻄﻼﺡ : ﻣﺎ ﺃﺿﺎﻓﻪ ﺍﻟﺰﺳﻮﻝ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺃﺳﻨﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻪ
ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻣﺜﺎﻟﻪ ؛ ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻺ ؛ ﻳﺎ ﻋﺒﺎﺩﻱ ﺇﻧﻲ ﺣﺮﻣﺖ
ﺍﻟﻈﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻲ ﻭﺟﻌﻠﺘﻪ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﻋﻠﻴﻜﻢ
ﻓﻼ ﺗﻈﺎﻟﻤﻮﺍ . . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
Hadits qudsiy menurut istilah :
yaitu sesuatu yang disandarkan
oleh Rasulullloh shollallohu alaihi
wa sallam kepada Tuhannya azza
wa jalla yang selain al-
qur’an. seperti :
Allah tabaroka wa ta’ala
berfirman :(yang artinya kurang
lebih) “wahai hamba-hambaku,
sesungguhnya aku mengharamkan
kedzaliman atas diriku, dan aku
menjadikan kedzaliman itu sesuati
yang diharamkan atas kalian, maka
janganlah kalian saling berbuat
dzalim.” al-hadits.
ﺃﻭ ﻛﻘﻮﻝ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻲ ﻣﺜﻼ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺮﻭﻳﻪ ﻋﻦ ﺭﺑﻪ
ﻋﺰ ﻭﺟﻞ . . ﻫﻜﺬﺍ
atau hadits qudsiy itu seperti
ucapan shahabat semisal :
Rosulullah shollallohu alaihi wa
sallam bersabda tentang perkara
yang beliau riwayatkan dari
Tuhannya azza wa jalla : …..
begini begini …..
ﻭﺳﻤﻲ ﺣﺪﻳﺜﺎ : ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻦ ﺣﻜﺎﻳﺘﻪ ﻟﻪ
ﻋﻦ ﺭﺑﻪ
hadits qudsiy disebut hadits :
karena termasuk dari sabda
Rosulullahi shollallohu alaihi wa
sallam dan karena menceritakannya
Rosulullah terhadap hadits dari
Tuhannya.
ﻭﺳﻤﻲ ﻗﺪﺳﻴﺎ : ﻷﻧﻪ ﺃﺳﻨﺪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺏ ﺟﻞ
ﻭﻋﻼﻭﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺇﻧﻪ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺑﻪ ،
ﻭﺍﻟﻤﻨﺸﻲﺀ ﻟﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻨﺰﻩ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻻ
ﻳﻠﻴﻖ
hadits qudsiy disebut qudsiy :
karena disandarkan pada Tuhan
jalla wa’ala dari segi yang
berfirman dan yang merintis
(sumber) terhadap hadits tersebut
dan Tuhan adalah dzat yang suci
dari setiap perkara yang tidak
layak.
ﻭﻣﻦ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻘﺪﺳﻲ ﻳﻈﻬﺮ ﺍﻟﻔﺮﻕ
ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ
dan dari mengetahui haqiqat
tentang hadits qudsiy,
perbedaannya akan terlihat
diantara hadits qudsiy, al-qur’an
dan hadits nabawiy

؛ } ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻘﺪﺳﻲ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ {
؛ ﺍﻧﻔﺮﺩ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻤﺰﺍﻳﺎ ﻭﺧﺼﺎﺋﺺ ﻟﻴﺴﺖ ﺗﻠﻚ
ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﻫﻲ ﺗﺼﻮﺭ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻫﻲ ؛ ١ ـ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ :ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺑﺎﻗﻴﺔ
ﻋﻠﻰ ﻣﺮ ﺍﻟﺪﻫﻮﺭ ﻣﺤﻔﻮﻅ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ
ﻭﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻛﻠﻤﺎﺗﻪ
ﻭﺣﺮﻭﻓﻪ ﻭﺃﺳﻠﻮﺑﻪ
Perbedaan Antara Hadits Qudsiy
dan Al-Qur’an
Al-Qur’an mempunyai keutamaan
dan keistimewaan tersendiri yang
tidak dimiliki hadits-hadits,
keutamaan dan keistimewaan
tersebut menjelaskan atau
menampakkan terhadap perbedaan
Al-Qur’an dan Al-Hadits. Antara
lain :
1. Al-Qur’an : Merupakan mu’jizat
yang kekal sepanjang masa yang
terjaga dari perubahan dan
distorsi, lafadznya mutawattir
dalam kesemua kalimat-kalimat,
huruf-huruf, dan gaya bahasanya.
٢ ـ ﺣﺮﻣﺔ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ
2. Haram meriwayatkan al-qur’an
dengan ma’nanya
٣ ـ ﺣﺮﻣﺔ ﻣﺴﻪ ﻟﻠﻤﺤﺪﺙ ، ﻭﺣﺮﻣﺔ ﺗﻼﻭﺗﻪ
ﻟﻠﺠﻨﺐ ﻭﻧﺤﻮﻩ
3. Haram menyentuhnya bagi orang
yang berhadats, dan haram
membacanya bagi orang yang
junub dan semacamnya.
٤ ـ ﺗﻌﻴﻨﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ
4. Tertentunya dalam shalat
٥ ـ ﺗﺴﻤﻴﺘﻪ ﻗﺮﺁﻧﺎ
5. Ternamainya dengan sebutan
Qur’an
٦ ـ ﺍﻟﺘﻌﺒﺪ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ ، ﻭﻛﻞ ﺣﺮﻑ ﻣﻨﻪ ﺑﻌﺸﺮ
ﺣﺴﻨﺎﺕ
6. Menjadi ibadah dengan
membacanya, setiap huruf dari al-
qur’an diberi dengan balasan 10
kebaikan
٧ ـ ﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻠﺔ ﻣﻨﻪ ﺁﻳﺔ ، ﻭﺗﺴﻤﻴﺔ
ﻣﻘﺪﺍﺭ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﺳﻮﺭﺓ
7. Setiap perkataan/jumlah dari al-
qur’an disebut ayat, dan setiap
ukuran tertentu dari beberapa ayat
disebut surat.
٨ ـ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﻣﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺑﻮﺣﻲ
ﺟﻠﻲ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ، ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
8. Lafadz dan ma’nanya dari sisi
Allah, dengan wahyu yang
disepakati para ulama’. berbeda
halnya dengan hadits.
wallohu ta’ala a’lamu bishshowab.
LINK DIKUSI :

https://www.facebook.com/groups/

piss.ktb/
permalink/761964697159674/

https://www.facebook.com/notes/

pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-
piss-ktb/3067-pengertian-hadits-
qudsiy/766718390017638

Syarat Shalat Jama’ dan ShalatQashar

Sholat jama’
maksudnya adalah mengerjakan 2
(dua) sholat fardlu dalam satu
waktu. Jika dikerjakan pada waktu
yang pertama disebut jama’ Taqdim
dan jika dikerjakan pada watu sholat
yang kedua disebut jama’ ta’khir.
Sedangkan Sholat qoshor adalah
meringkas shalat dari 4 (empat)
raka’at menjadi 2 (dua) raka’at.
Jama’ dan Qashor, dua hal yang
memiliki syarat masing-masing.
Syarat jama’ Taqdim adalah
ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﻢ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺒﺪﺍﺀﺓ ﺑﺎﻷﻭﻟﻰ
ﻭﻧﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻻﺓ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ
1. Harus dimulai dengan shalat yang
pertama
2. Niat jama’
3. Berturut-turut (tidak di pisah, penj )
antara kedua shalat
4. Berlangsungnya udzur (halangan)
Contohnya: bila shalat Dhuhur
sekaligus Ashar, maka harus dimulai
dengan shalat Dhuhur terlebih
dahulu kemudian dilanjutkan shalat
‘Asar. Keduanya dilakukan pada
waktu shalat Dhuhur. Tidak terpisah
oleh waktu yang lama kadar 2 (dua)
roka’at antara sholat yang pertama
dan kedua.
Bila shalat Maghrib dan Isya’, maka
harus didahulukan shalat Maghrib.
Sedangkan syarat Jama’ ta’khir
adalah
ﺷﺮﻭﻁ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺇﺛﻨﺎﻥ: ﻧﻴﺔ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻭﻗﺪ
ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﺎﻳﺴﻌﻬﺎ ﻭﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﻌﺬﺭ
ﺇﻟﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ
1. Niat jama’ ta’khir ketika masih
berada pada waktu shalat yang
pertama
2. Adanya udzur sampai
sempurnanya mengerjakan shalat
yang kedua
Bila ingin melaksanakan jama’
ta’khir, maka sejak berada di waktu
shalat yang pertama sudah ada
niatan untuk mengerjakan shalatnya
diwaktu shalat kedua.
Adapun shalat Qashar, syarat-
syaratnya adalah
ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺳﺒﻌﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻔﺮﻩ
ﻣﺮﺣﻠﺘﻴﻦ ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺒﺎﺣﺎ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺠﻮﺍﺯ
ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻭﻧﻴﻪ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻭﺃﻥ ﻻﻳﻘﺘﺪﻱ
ﺑﻤﺘﻢ ﻓﻲ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﺔ
1. Harus bepergian ( safar) sejauh 2
marhalah
2. Harus berpegian yang mubah
(diperbolehkan)
3. Mengetahui kebolehan meng- qashar
shalat
4. Niat meng- qashar shalat ketika
takbiratul ihram
5. Tidak boleh bermakmum pada orang
yang shalat sempurna walaupun
hanya sebagian shalat saja, penj.
Untuk melakukan qashar shalat,
maka perjalanan harus sejauh 2
marhalah, atau kira-kira jarak
perjalanan mencapai 16 (enam
belas) farsakh (ada ulama’ yang
mengatakan 88 Km, 80 Km, 64 Km,
94,5 Km, dan lain-lain. Bila
perjalanannya sudah mencapai
syarat jarak ini maka boleh
mengqashar shalat. Tapi hal itu pun
harus perjalanan untuk hal yang
mubah, bukan untuk tujuan ma’siat,
tapi boleh untuk tujuan rekreasi
karena itu perkara mubah.
Kapan melakukan niat qashar
shalat ? saat melakukan takbiratul
Ihram.
Jama’ dan Qashar
Bila syarat-syarat jama’ dan qashar
terpenuhi, maka boleh untuk
menggabungkan antara jama’ dan
qoshor sholat. Contoh dalam
prakteknya bila mengerjakan shalat
Dhuhur dan Ashar, keduanya ingin
di jama’ taqdim dan qashar, maka
shalat Dhuhur dilakukan 2 raka’at,
setelah salam, dilanjutkan shalat
Asar 2 raka’at, sehingga totalnya
hanya mengerjakan 4 raka’at dengan
dua kali salam.
Keduanya adalah dispensasi bagi
musafir / orang yang melakukan
perjalanan. Boleh mengambil
dispensasi tersebut, boleh juga
tidak. Boleh mengambil dispensasi
jama’ saja, boleh juga mengambil
dispensasi qashar saja. Biasanya
kaum Muslimin lebih sering
menjama’ sekaligus qashar.
Oleh : Ibnu L’ Rabasssa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.634 pengikut lainnya.