LARANGAN DALAM MESJID

Larangan Di Masjid
1. Jangan mengotori masjid, karena
masjid itu suci dan tempat ibadah
2. Jangan membuat gaduh dengan
nyanyian dan berteriak-teriak
3. Jangan menampakkan aurat, sehinga
lebih utama berpakaian rapi dan suci
4. Jangan berjualan, berdagang dan
untuk urusan keuntungan dunia lainnya
5. Jangan berselisih dan berdebat,
sehingga hindari pembicaraan politik
6. Jangan membiarkan masjid sepi
jamaah sehingga perlu silaturahmi
7. Jangan tidur atau tiduran dengan
telapak kaki mengarah ke kiblat
8. Jangan sampai sholat tidak memakai
topi kepala (kopyah, peci, dll)
9. Jangan sampai sholat dengan
terburu-buru atau tidak tuma’ninah
10. Jangan sampai mendahului gerakan
Imam di depan
11. Jangan melewati di depan orang
yang sedang sholat
12. Jangan melangkahi orang yang
sedang duduk tawadhu’
13. Jangan meludah atau membuang
sesuatu lewat jendela
14. Jangan potong kuku, membunyikan
ruas jari-jari tangan, dll
15. Jangan masuk masjid dalam
keadaan hadast (tidak suci)
16. Jangan sampai masuk masjid tanpa
niat i’tikaf
17. Jangan berkata buruk dengan
menggunjing, mengfitnah dll
18. Jangan jadikan masjid (rumah Allah)
sebagai lorong untuk lalu lalang
19. Jangan mengumumkan dan mencari
barang yang hilang di masjid
20. Jangan duduk sebelum sholat
tahiyatul masjid (kulo nuwun). Rosulullah
Saw. :“Jika seseorang dari kamu masuk
masjid maka janganlah dia duduk
sehingga dia melakukan sholat dua
rakaat “.(HR.Bukhori dan Muslim).
21. Jangan tinggalkan sholat fardhu
walaupun hanya sekali saja
22. Jangan menunda-nunda sholat
fardhu kecuali sholat ‘Isya
23. Jangan sampai sholat fardhu
sendirian, karena wajib untuk berjamaah
24. Jangan sholat fardhu di rumah-
rumah, karena sholat fardhu wajib di
Masjid
25. Jangan masuk masjid saat mulut
masih ada bau kurang sedap, maka
bersiwaklah dulu. Rosulullah Saw.
bersabda : ”Siapa yang makan bawang
merah, bawang putih atau bawang
bakung (jengkol, petai dll), maka
sungguh janganlah dia mendekat masjid
kami, karena malaikat terganggu dengan
apa manusia terganggu
dengannya” (HR.Bukhori dan Muslim).
26. Jangan sampai masuk masjid
dengan mendahulukan kaki kiri,
sebaiknya memulai masuk dengan kaki
kanan, Rosulullah Saw. bersabda :
“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi
wassalam suka mendahulukan bagian
yang kanan ketika memakai sandal,
bersisir, bersuci dan dalam semua
urusannya (yang mulia)” (HR.Bukhori
dan Muslim).

LARANGAN DALAM MESJID

Larangan Di Masjid
1. Jangan mengotori masjid, karena
masjid itu suci dan tempat ibadah
2. Jangan membuat gaduh dengan
nyanyian dan berteriak-teriak
3. Jangan menampakkan aurat, sehinga
lebih utama berpakaian rapi dan suci
4. Jangan berjualan, berdagang dan
untuk urusan keuntungan dunia lainnya
5. Jangan berselisih dan berdebat,
sehingga hindari pembicaraan politik
6. Jangan membiarkan masjid sepi
jamaah sehingga perlu silaturahmi
7. Jangan tidur atau tiduran dengan
telapak kaki mengarah ke kiblat
8. Jangan sampai sholat tidak memakai
topi kepala (kopyah, peci, dll)
9. Jangan sampai sholat dengan
terburu-buru atau tidak tuma’ninah
10. Jangan sampai mendahului gerakan
Imam di depan
11. Jangan melewati di depan orang
yang sedang sholat
12. Jangan melangkahi orang yang
sedang duduk tawadhu’
13. Jangan meludah atau membuang
sesuatu lewat jendela
14. Jangan potong kuku, membunyikan
ruas jari-jari tangan, dll
15. Jangan masuk masjid dalam
keadaan hadast (tidak suci)
16. Jangan sampai masuk masjid tanpa
niat i’tikaf
17. Jangan berkata buruk dengan
menggunjing, mengfitnah dll
18. Jangan jadikan masjid (rumah Allah)
sebagai lorong untuk lalu lalang
19. Jangan mengumumkan dan mencari
barang yang hilang di masjid
20. Jangan duduk sebelum sholat
tahiyatul masjid (kulo nuwun). Rosulullah
Saw. :“Jika seseorang dari kamu masuk
masjid maka janganlah dia duduk
sehingga dia melakukan sholat dua
rakaat “.(HR.Bukhori dan Muslim).
21. Jangan tinggalkan sholat fardhu
walaupun hanya sekali saja
22. Jangan menunda-nunda sholat
fardhu kecuali sholat ‘Isya
23. Jangan sampai sholat fardhu
sendirian, karena wajib untuk berjamaah
24. Jangan sholat fardhu di rumah-
rumah, karena sholat fardhu wajib di
Masjid
25. Jangan masuk masjid saat mulut
masih ada bau kurang sedap, maka
bersiwaklah dulu. Rosulullah Saw.
bersabda : ”Siapa yang makan bawang
merah, bawang putih atau bawang
bakung (jengkol, petai dll), maka
sungguh janganlah dia mendekat masjid
kami, karena malaikat terganggu dengan
apa manusia terganggu
dengannya” (HR.Bukhori dan Muslim).
26. Jangan sampai masuk masjid
dengan mendahulukan kaki kiri,
sebaiknya memulai masuk dengan kaki
kanan, Rosulullah Saw. bersabda :
“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi
wassalam suka mendahulukan bagian
yang kanan ketika memakai sandal,
bersisir, bersuci dan dalam semua
urusannya (yang mulia)” (HR.Bukhori
dan Muslim).

Seputar Tahlilan

Imam al-
Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-
Syafi’i rahimahullah (salah satu
pengarang kitab tafsir Jalalain)
didalam al-Hawi lil-Fatawi
menceritakan bahwa kegiatan
‘tahlilan’ berupa memberikan makan
selama 7 hari setelah kematian
merupakan amalan yang tidak
pernah ditinggalkan oleh umat Islam
di Makkah maupun Madinah. Hal itu
berlangsung hingga masa beliau :
ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ، ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻬﺎ
ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ
ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ،
ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎ ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ
ﺍﻷﻭﻝ
“Sesungguhnya sunnah memberikan
makan selama 7 hari, telah sampai
kepadaku bahwa sesungguhnya
amalan ini berkelanjutan dilakukan
sampai sekarang (yakni masa al-
Hafidz sendiri) di Makkah dan
Madinah. Maka secara dhahir,
amalan ini tidak pernah di
tinggalkan sejak masa para shahabat
Nabi hingga masa kini (masa al-
Hafidz as-Suyuthi), dan
sesungguhnya generasi yang datang
kemudian telah mengambil amalan
ini dari pada salafush shaleh hingga
generasi awal Islam. Dan didalam
kitab-kitab tarikh ketika menuturkan
tentang para Imam, mereka
mengatakan “manusia (umat Islam)
menegakkan amalan diatas kuburnya
selama 7 hari dengan membaca al-
Qur’an’. [1]
Hal ini kembali di kisahkan oleh
al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-
Fadlil Muhammad Nur al-Buqis
didalam kitab beliau yang khusus
membahas kegiatan tahlilan (kenduri
arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan
menaqal perkataan Imam As-
Suyuthi :
ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﻭ ﺭﺃﻳﺘﻪ
ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ
ﺍﻟﺴﻨﺔ 1947 ﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﺭﺟﻌﺖ ﺇﻟﻰ
ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1958 ﻡ. ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻧﻬﺎ
ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﻭﺃﻧﻬﻢ
ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎً ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻹﻭﻝ.
ﺍﻩ. ﻭﻫﺬﺍ ﻧﻘﻠﻨﺎﻫﺎ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ
ﺑﺘﺼﺮﻑٍ. ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ :
ﻭﺷﺮﻉ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﻹﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺐ ﻳﺤﺘﺎﺝ
ﻣﺎ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔٍ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻓﻜﺎﻥ ﻓﻰ
ﺍﻟﺼﺪﻗﺔِ ﻣﻌﻮﻧﺔٌ ﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ
ﻟﻴﺨﻔﻒ ﻋﻨﻪ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﺴﺆﻝ ﻭﺻﻌﻮﺑﺔ ﺧﻄﺎﺏ
ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻭﺇﻏﻼﻇﻬﻤﺎ ﻭ ﺍﻧﺘﻬﺎﺭﻫﻤﺎ .
“Sungguh sunnah memberikan
makan selama 7 hari, telah sampai
informasi kepadaku dan aku
menyaksikan sendiri bahwa hal ini
(kenduri memberi makan 7 hari)
berkelanjutan sampai sekarang di
Makkah dan Madinah (tetap ada)
dari tahun 1947 M sampai aku
kembali Indonesia tahun 1958 M.
Maka faktanya amalan itu memang
tidak pernah di tinggalkan sejak
zaman sahabat nabi hingga
sekarang, dan mereka menerima
(memperoleh) cara seperti itu dari
salafush shaleh sampai masa awal
Islam. Ini saya nukil dari perkataan
Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan
sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz
As-Suyuthi berkata : “disyariatkan
memberi makan (shadaqah) karena
ada kemungkinan orang mati
memiliki dosa yang memerlukan
sebuah penghapusan dengan
shadaqah dan seumpamanya, maka
jadilah shadaqah itu sebagai
bantuan baginya untuk meringankan
dosanya agar diringankan baginya
dahsyatnya pertanyaan kubur,
sulitnya menghadapi menghadapi
malaikat, kebegisannyaa dan
gertakannya”. [2]
Istilah 7 hari sendiri didasarkan
pada riwayat shahih dari Thawus
yang mana sebagian ulama
mengatakan bahwa riwayat tersebut
juga atas taqrir dari Rasulullah,
sebagian juga mengatakan hanya
dilakukan oleh para sahabat dan
tidak sampai pada masa Rasulullah.

Ulasan
berikut merupakan penjelasan Ust.
Muhammad Idrus Ramli saat
menanggapi argumentasi pihak
Wahhabiyah dalam sebuah dialog di
Batam (Lihat :Video Dialog Ust.
Idrus Ramli (Ahlussunnah) Dengan
Wahabi Ust. Firanda Andirja dan
Ust. Zainal Abidin di Batam)
***
Ini yang dimaksud (yang
dipersoalkan pada) tahlilan itu
makanannya, bukan bacaannya,
bukan ihdauts tsawab nya kan ya …
kan (tahlilan) yang 7 hari itu yang
dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh
itu memang hukumnya makruh.
Makruhnya itu mengapa ? karena
yang sunnah itu adalah tetangga
memberikan makan kepada keluarga
duka cita, berdasarkan hadits “ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ
ﻷﻝ ﺟﻌﻔﺮ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻓﻘﺪ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﺃﻣﺮ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ ،
ﺃﻭ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﻣﺎ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ / Buatkan
makanan untuk keluarga Ja’far
karena mereka sedang berduka cita”.
Jadi yang sunnah, tetangga
memberikan makan untuk keluarga
yang berduka cita, karenanya kalau
dibalik, keluarga duka cita membuat
makan untuk tetangga maka
hukumnya makruh karena
mukhalafah lis-sunnah, karenanya
kata para Ulama, ini alasannya
karena memberatkan.
Dalam teori ushul fiqh ” ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻳﺪﻭﺭ ﻣﻊ
ﻋﻠﺘﻪ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻭﻋﺪﻣﺎ / Hukum itu akan
selalu berputar bersama illatnya
ketika ada maupun tidak ada” .
Karenanya kata para ulama, ketika
didalam makanan yang diberikan
kepada jama’ah itu murni dari
keluarga duka cita maka hukumnya
makruh, tapi kalau makanan itu
bukan dari keluarga duka cita, dari
tetangga, orang lain, maka tidak
makruh, karena sudah tidak
memberatkan. Kaidah ushul fiqhnya
seperti itu.
Seperti diterangkan oleh salah
seorang ulama mufti syafi’iyyah dari
Iraq, Syaikh Abdul Karim al-Mudarris
dalam kitabnya Jawahirul Fatawa,
kondisi yang ada di Indonesia ketika
ada orang meninggal yang
dikeluarkan itu tidak murni dari
keluarga duka cita tetapi banyak
sumbangan dari tetangga, bahkan
dulu saya, teman-teman mondok,
kalau tidak punya beras, biasanya
pinjam kepada orang yang
keluarganya meninggal, karena oleh
orang dianteri beras banyak sekali
sampai berkwintal-kwintal, bahkan
ketika keluarga saya meninggal juga
seperti itu …. Jadi, makruh ketika
itu memang murni dari keluarga
duka cita, (tapi) kalau dari luar
(orang lain) maka tidak makruh.
Yang kedua, seandainya ini makruh .
Karena ini budaya/tradisi, kalau ini
dilawan akan menimbulkan gejolak,
dan ini tidak bagus.
Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi
didalam kitab al-Adab al-Syar’iyyah,
mengutip dari Ibnu ‘Aqil dalam
kitab al-Funun, kata beliau, “Tidak
selayaknya meninggalkan adat
masyarakat selama adat itu tidak
haram” . Jadi, selama tidak haram,
tidak sebaiknya meninggalkan.
Mengapa ? ini bukan karena takut,
tetapi berdakwah kepada masyarakat
dengan pendekatan hati, dengan
pendekatan lemah lembut,
mengapa ? karena ini yang dilakukan
oleh Rasulullah Saw.
Didalam kitab tersebut
diterangkan, … karena Rasulullah
Saw. membiarkan Ka’bah dan tidak
melakukan rekontrusi, alasannya
karena umat Islam baru
meninggalkan masa-masa jahiliyah.
Suatu ketika Rasulullah Saw
bersabda kepada Aisyah, ka’bah itu
bukan ka’bahnya Nabi Ibrahim, pada
masa jahiliyah pernah roboh, ketika
orang Quraisy membangun ka’bah
bersamaan dengan krisis ekonomi,
karena tidak ada biaya, mk ka’bah
dibangun lebih kecil. Lalu kata
Aisyah, kenapa tidak dibongkar dan
dibangun lagi ? kata Rasulullah :
“Seandanya bukan karena kaummu
baru meninggalkan masa jahiliyah,
ka’bah itu saya rekontruksi”.
Ka’bah saja dibiarkan, apalagi cuma
tahlilan 7 hari. Penting mana
mengubah ka’bah dengan mengubah
acara tahlilan 7 hari. Karena ka’bah
itu kiblat, kiblat umat Islam.
Ternyata ka’bah ini setelah tahun 65
hijriyah, dibongkar oleh Khalifah
Abdullah bin Zubair, dibangun
kembali seperti ka’bahnya Nabi
Ibrahim, lebih besar dari yang ada,
cuma bin Zubair ini menjadi
khalifah tidak kondusif, perang terus
dengan Bani Umayyah, setelah dia
kalah, proyek Khalifah yang baru
Abdul Malik bin Marwan adalah
ka’bah ini dibongkar dikembalikan
lagi ke ka’bah jahiliyah. Alasannya
“ini ka’bahnya Abdullah bin Zubair,
bukan ka’bahnya Rasulullah”.
Akhirnya ada seorang ulama,
menyampaikan kepada Abdul Malik
bin Marwan, bahwa ini Abdullah bin
Zaubair mendapat wasiat dari Aisyah
dari Rasulullah Saw.. Setelah Bani
Umayyah ini tumbang, diganti Bani
Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid punya
rencana membongkar ka’bah,
alasannya adalah ini ka’bah bid’ah,
ka’bahnya Bani Umayyah, (lebih
bid’ah daripada Tahlilan, tambahan)
, kemudian beliau meminta
pendapat dari Ulama, ternyata apa
kata Imam Malik “Jangan engkau
lakukan wahai Amirul Mukminin, aku
khawatir ka’bah ini menjadi mainan
dari para penguasa (setiap ada
penguasa ingin menarik simpat
rakyat mk proyeknya membangun
ka’bah, penj), maka akan hilang
wibawa ka’bah dari hati umat Islam”.
Ka’bah sampai sekarang dibiarkan,
demi menjaga ka’bah. Tradisi 7 hari
itu dibiarkan : yang pertama karena
(cuma) makruh, yang kedua karena
sudah adat istiadat, ketika,
masyarakat banyak memberikan
sumbangan yang dapat
meminimalisir bahkan
menghilangkan hukum makruhnya,
kemudian yang ke empat, juga demi
menjaga haibah -nya ulama dahulu.
Para ulama, para kyai, masyayikh,
pesantren-pesantren…, sampai
sekarang masih tahlilan. Ulama-
ulama dahulu saja membiarkan
tahlilan 7 hari. Ka’bah saja dibiarkan
apalagi cuma tahlilan.
(Diantara dasar yang dijadikan oleh
ulama atas tradisi ini adalah) Imam
Ahmad tidak shalat qabliyah
maghrib, mengapa ? karena orang-
orang tidak percaya kalau ini
sunnah, akhirnya beliau tidak shalat.
Jadi bukan takut, tetapi menjaga
tidak terjadi benturan dengan
masyarakat. Itu cara didalam
berdakwah, bukan langsung “bid’ah,
syirik”, bukan seperti itu.

Imam Al-
Qarafi adalah ahli fikih dalam
madzhab Maliki, di tahun 684 H di
Mesir. Beliau disebut al-Qarafi
karena selama mencari ilmu ia
menetap di Qarafah (pekuburan). Di
masa itu Tahlilan sudah populer
dengan istilah fidyah:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﻫُﻮﻧِﻲُّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻴﻪِ
ﺍﻟْﻘَﺮَﺍﻓِﻲُّ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ﻫُﻮَ ﻓِﺪْﻳَﺔُ ﻟَﺎ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒِ ﻣَﺮَّﺓٍ ﺣَﺴْﺒَﻤَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ
ﺍﻟﺴَّﻨُﻮﺳِﻲُّ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻬِﻤَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ
ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔُ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ
6 / ﺹ 105 )
“ar-Rahuni berkata: Tahlil yang
dikatakan oleh al-Qarafi yang
dianjurkan untuk diamalkan adalah
doa fidyah La ilaha illa Allahu,
sebanyak 70.000 kali. Terlebih
disebutkan oleh as-Sanusi dan
lainnya. Inilah yang difahami oleh
para imam” (Anwar al-Buruq 6/105)
Masih dalam kitab yang sama, juga
dijelaskan tentang Tahlil:
ﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻬْﻤِﻞَ ﻫَﺬِﻩِ
ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔَ ﻓَﻠَﻌَﻞَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝُ ﺇﻟَﻰ
ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻓَﺈِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣُﻮﺭٌ ﻣَﻐِﻴﺒَﺔٌ ﻋَﻨَّﺎ ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ
ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑٌ ﻓِﻲ ﺣُﻜْﻢٍ ﺷَﺮْﻋِﻲٍّ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻓِﻲ
ﺃَﻣْﺮٍ ﻭَﺍﻗِﻊٍ ﻫَﻞْ ﻫُﻮَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ
ﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺮَﺕْ ﻋَﺎﺩَﺓُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻧَﻪُ
ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ، ﻭَﻳُﻌْﺘَﻤَﺪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ
ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻴَﺴِّﺮُﻩُ ﻭَﻳُﻠْﺘَﻤَﺲُ
ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑِﻜُﻞِّ ﺳَﺒَﺐٍ ﻣُﻤْﻜِﻦٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺠُﻮﺩُ
ﻭَﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥُ ﺍ ﻫـ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ
ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ 6 / ﺹ 104 )
“Tetapi yang dianjurkan oleh
seseorang adalah agar tidak
meninggalkan masalah ini (baca al-
Quran di kuburan). Semoga
pendapat yang benar adalah
sampainya pahala kepada orang
yang telah wafat. Sebab ini adalah
masalah yang tak terlihat bagi kita.
Dalam masalah ini tidak ada
perselisihan tentang hukum
syariatnya, hanya dalam masalah
realitasnya seperti itu atau tidak.
Demikian halnya dengan TAHLILAN
yang sudah menjadi TRADISI
manusia saat ini yang mereka
amalkan. Hal ini dianjurkan untuk
diamalkan dan diteguhkan atas
karunia Allah, kemudahan yang
diberikannya….” (Anwar al-Buruq
6/105)
Riwayat dari Imam al-Qarafi diatas
juga menguatkan fatwa Ibnu
Taimiyah yang memang hidup 1
masa dengan beliau:
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏(ﺝ 5 / ﺹ
471‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻤَّﻦْ ” ﻫَﻠَّﻞَ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ
ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺑَﺮَﺍﺀَﺓً ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ” ﺣَﺪِﻳﺚٌ
ﺻَﺤِﻴﺢٌ ؟ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ
ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻪُ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ .
ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﺇﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻫَﻜَﺬَﺍ :
ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﺃَﻭْ ﺃَﻗَﻞَّ ﺃَﻭْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ . ﻭَﺃُﻫْﺪِﻳَﺖْ ﺇﻟَﻴْﻪِ
ﻧَﻔَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺜًﺎ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ
ﻭَﻟَﺎ ﺿَﻌِﻴﻔًﺎ . ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ .
“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang
orang yang bertahlil 70.000 kali dan
menghadiahkannya kepada mayyit,
supaya memberikan keringan kepada
mayyit dari api neraka, haditsnya
shahih ataukah tidak ? Apakah
seseorang manusia yang bertahlil
dan menghadiahkan kepada mayyit,
pahalanya sampai kepada mayyti
ataukah tidak ?
Jawab : Apabila seseorang bertahlil
sejumlah yang demikian ; 70.000
kali atau lebih sedikit atau lebih
banyak dari itu dan
menghadiahkannya kepada mayyit
niscaya Allah akan memberikan
kemanfaatan kepada mayyit dengan
hal tersebut, dan tidaklah hadits ini
shahih dan tidak pula dlaif. Wallahu
A’lam”.
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏( ﺝ 5 / ﺹ 472‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺗَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ؟
ﻭَﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴﺢُ ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻤِﻴﺪُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮُ ﺇﺫَﺍ
ﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻬَﺎ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ .
ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺃَﻫْﻠِﻪِ
ﻭَﺗَﺴْﺒِﻴﺤُﻬُﻢْ ﻭَﺗَﻜْﺒِﻴﺮُﻫُﻢْ ﻭَﺳَﺎﺋِﺮُ ﺫِﻛْﺮِﻫِﻢْ ﻟِﻠَّﻪِ
ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺇﺫَﺍ ﺃَﻫْﺪَﻭْﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺻَﻞَ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ
ﺃَﻋْﻠَﻢُ
“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang
keluarga al-Marhum yang membaca
al-Qur’an yang disampaikan kepada
mayyit ? Tasybih, tahmid, tahlil dan
takbir, apabila menghadiahkannya
kepada mayyit, apakah pahalanya
sampai kepada mayyit ataukah
tidak ?
Jawab : Pembacaaan al-Qur’an oleh
keluarga almarhum sampai kepada
mayyit, dan tasbih mereka, takbir
dan seluruh dziki-dzikir karena Allah
Ta’alaa apabila menghadiahkannya
kepada mayyit, maka sampai kepada
mayyit. Wallahu A’l

Tahlilan

Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy- Syafi’i rahimahullah (salah satu
pengarang kitab tafsirJalalain)
didalam al-Hawi lil-Fatawi
menceritakan bahwa kegiatan
‘tahlilan’ berupa memberikan makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam
di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau :

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ، ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻬﺎ
ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ
ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ،
ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎ ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ
ﺍﻷﻭﻝ

“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan
sampai sekarang (yakni masa al- Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-
Hafidz as-Suyuthi), dan
sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga
generasi awal Islam. Didalam
kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam)
menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’.
Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan
menaqal perkataan Imam As-
Suyuthi :

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﻭ ﺭﺃﻳﺘﻪ
ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ
ﺍﻟﺴﻨﺔ 1947 ﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﺭﺟﻌﺖ ﺇﻟﻰ
ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1958 ﻡ. ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻧﻬﺎ
ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﻭﺃﻧﻬﻢ
ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎً ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻹﻭﻝ.
ﺍﻩ. ﻭﻫﺬﺍ ﻧﻘﻠﻨﺎﻫﺎ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ
ﺑﺘﺼﺮﻑٍ. ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ :
ﻭﺷﺮﻉ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﻹﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺐ ﻳﺤﺘﺎﺝ
ﻣﺎ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔٍ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻓﻜﺎﻥ ﻓﻰ
ﺍﻟﺼﺪﻗﺔِ ﻣﻌﻮﻧﺔٌ ﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ
ﻟﻴﺨﻔﻒ ﻋﻨﻪ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﺴﺆﻝ ﻭﺻﻌﻮﺑﺔ ﺧﻄﺎﺏ
ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻭﺇﻏﻼﻇﻬﻤﺎ ﻭ ﺍﻧﺘﻬﺎﺭﻫﻤﺎ .

“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari)berkelanjutan sampai sekarang diMakkah dan Madinah (tetap ada)
dari tahun 1947 M sampai aku
kembali Indonesia tahun 1958 M.Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak
zaman sahabat nabi hingga
sekarang, dan mereka menerim (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan.
Al-Imam alHafidz As-Suyuthi berkata :
“disyariatkan
memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan
shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya
dahsyatnya pertanyaan kubur,sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannya dan gertakannya”.
Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang. mana sebagian ulama
mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah,sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah.

Ulasan berikut merupakan penjelasan Ust.Muhammad Idrus Ramli saat menanggapi argumentasi pihak Wahhabiyah dalam sebuah dialog diBatam.
(Lihat :Video Dialog Ust.
Idrus Ramli (Ahlussunnah) Dengan Wahabi Ust. Firanda Andirja dan Ust. Zainal Abidin di Batam)
***
Ini yang dimaksud (yang
dipersoalkan pada) tahlilan itu
makanannya, bukan bacaannya,bukan ihdauts tsawab nya kan ya …
kan (tahlilan) yang 7 hari itu yang dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh itu memang hukumnya makruh.
Makruhnya itu mengapa ? karena yang sunnah itu adalah tetangga memberikan makan kepada keluarga duka cita, berdasarkan hadits
“ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻷﻝ ﺟﻌﻔﺮ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻓﻘﺪ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﺃﻣﺮ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ ،ﺃﻭ ﺃﺗﺎﻫﻢ ﻣﺎ ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ

Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang berduka cita”.

Jadi yang sunnah, tetangga
memberikan makan untuk keluarga yang berduka cita, karenanya kalau dibalik, keluarga duka cita membuat
makan untuk tetangga maka
hukumnya makruh karena
mukhalafah lis-sunnah,karenanya kata para Ulama, ini alasannya karena memberatkan.
Dalam teori ushul fiqh
” ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻳﺪﻭﺭ ﻣﻊ ﻋﻠﺘﻪ ﻭﺟﻮﺩﺍ ﻭﻋﺪﻣﺎ

Hukum itu akan selalu berputar bersama illatnya
ketika ada maupun tidak ada.

Karenanya kata para ulama, ketika didalam makanan yang diberikan kepada jama’ah itu murni dari
keluarga duka cita maka hukumnya makruh, tapi kalau makanan itu bukan dari keluarga duka cita, dari
tetangga, orang lain, maka tidak makruh, karena sudah tidak memberatkan.
Kaidah ushul fiqhnya seperti itu.Seperti diterangkan oleh salah seorang ulama mufti syafi’iyyah dari Iraq, Syaikh Abdul Karim al-Mudarris
dalam kitabnya Jawahirul Fatawa.
Kondisi yang ada di Indonesia ketika ada orang meninggal yang dikeluarkan itu tidak murni dari keluarga duka cita tetapi banyak sumbangan dari tetangga, bahkan dulu saya, teman-teman mondok,
kalau tidak punya beras, biasanya pinjam kepada orang yang keluarganya meninggal, karena oleh
orang dianteri beras banyak sekali sampai berkwintal-kwintal, bahkan ketika keluarga saya meninggal juga
seperti itu .Jadi, makruh ketika itu memang murni dari keluarga duka cita, tapi kalau dari luar (orang lain) maka tidak makruh.

Yang kedua, seandainya ini makruh .Karena ini budaya/tradisi, kalau ini dilawan akan menimbulkan gejolak,dan ini tidak bagus.
Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi
didalam kitab al-Adab al-Syar’iyyah,mengutip dari Ibnu ‘Aqil dalam kitab alFunun, kata beliau
“Tidak selayaknya meninggalkan adat
masyarakat selama adat itu tidak haram” . Jadi, selama tidak haram, tidak sebaiknya meninggalkan.
Mengapa ? ini bukan karena takut, tetapi berdakwah kepada masyarakat dengan pendekatan hati, dengan
pendekatan lemah lembut,
mengapa ? karena ini yang dilakukan oleh RasulullahSaw.
Didalam kitab tersebut
diterangkan karena Rasulullah
Saw membiarkan Ka’bah dan tidak melakukan rekontrusi, alasannya karena umat Islam baru meninggalkan masa masa jahiliyah.
Suatu ketika Rasulullah Saw
bersabda kepada Aisyah, ka’bah itu bukan ka’bahnya Nabi Ibrahim, pada masa jahiliyah pernah roboh, ketika
orang Quraisy membangun ka’bah bersamaan dengan krisis ekonomi, karena tidak ada biaya, maka ka’bah dibangun lebih kecil. Lalu kata
Aisyah, kenapa tidak dibongkar dan dibangun lagi ? kata Rasulullah :
“Seandanya bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah, ka’bah itu saya rekontruksi”.

Ka’bah saja dibiarkan,apalagi cuma tahlilan 7 hari. Penting mana mengubah ka’bah dengan mengubah acara tahlilan 7 hari. Karena ka’bah
itu kiblat, kiblat umat Islam.
Ternyata ka’bah ini setelah tahun 65 hijriyah, dibongkar oleh Khalifah Abdullah bin Zubair, dibangun kembali seperti ka’bahnya Nabi
Ibrahim, lebih besar dari yang ada, cuma bin Zubair ini menjadi khalifah tidak kondusif, perang terus dengan Bani Umayyah setelah dia kalah, proyek Khalifah yang baru Abdul Malik bin Marwan adalah
ka’bah ini dibongkar dikembalikan lagi ke ka’bah jahiliyah.
Alasannya ini ka’bahnya Abdullah bin Zubair, bukan ka’bahnya Rasulullah”.
Akhirnya ada seorang ulama,
menyampaikan kepada Abdul Malik bin Marwan, bahwa ini Abdullah bin Zaubair mendapat wasiat dari Aisyah
dari Rasulullah Saw.. Setelah Bani Umayyah ini tumbang, diganti Bani Abbasiyah,Harun Ar-Rasyid punya
rencana membongkar ka’bah,
alasannya adalah ini ka’bah bid’ah, ka’bahnya Bani Umayyah, (lebih bid’ah daripada Tahlilan)
kemudian beliau meminta
pendapat dari Ulama, ternyata apa kata Imam Malik “Jangan engkau
lakukan wahai Amirul Mukminin, aku khawatir ka’bah ini menjadi mainan
dari para penguasa (setiap ada penguasa ingin menarik simpati rakyat maka proyeknya membangun ka’bah, maka akan hilang
wibawa ka’bah dari hati umat Islam”. Ka’bah sampai sekarang dibiarkan, demi menjaga ka’bah. Tradisi 7 hari
itu dibiarkan :
yang pertama karena (cuma) makruh,
Yang kedua karena sudah adat istiadat, ketika masyarakat banyak memberikan sumbangan yang dapat meminimalisir bahkan menghilangkan hukum makruhnya,
yang ke tiga, juga demi
menjaga haibah -nya ulama dahulu.
Para ulama, para kyai, masyayikh,pesantren-pesantren ,sampai sekarang masih tahlilan. Ulama-ulama dahulu saja membiarkan
tahlilan 7 hari. Ka’bah saja dibiarkan apalagi cuma tahlilan.
(Diantara dasar yang dijadikan oleh ulama atas tradisi ini adalah Imam
Ahmad tidak shalat qabliyah
maghrib, mengapa ? karena orang-orang tidak percaya kalau ini sunnah, akhirnya beliau tidak shalat.
Jadi bukan takut, tetapi menjaga tidak terjadi benturan dengan masyarakat. Itu cara didalam berdakwah, bukan langsung “bid’ah,
syirik”, bukan seperti itu.

Imam Al- Qarafi adalah ahli fikih dalam madzhab Maliki, di tahun 684 H di Mesir. Beliau disebut al-Qarafi
karena selama mencari ilmu ia
menetap di Qarafah (pekuburan). Dimasa itu Tahlilan sudah populer
dengan istilah fidyah:

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﻫُﻮﻧِﻲُّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻴﻪِ
ﺍﻟْﻘَﺮَﺍﻓِﻲُّ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ﻫُﻮَ ﻓِﺪْﻳَﺔُ ﻟَﺎ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒِ ﻣَﺮَّﺓٍ ﺣَﺴْﺒَﻤَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ
ﺍﻟﺴَّﻨُﻮﺳِﻲُّ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻬِﻤَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ
ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔُ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ
6 / ﺹ 105 )

“ar-Rahuni berkata: Tahlil yang dikatakan oleh al-Qarafi yang dianjurkan untuk diamalkan adalah doa fidyah La ilaha illa Allahu,sebanyak 70.000 kali.
Terlebih disebutkan oleh as-Sanusi dan lainnya. Inilah yang difahami oleh para imam”
(Anwar al-Buruq 6/105)

Masih dalam kitab yang sama, juga dijelaskan tentang Tahlil:

ﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻬْﻤِﻞَ ﻫَﺬِﻩِ
ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔَ ﻓَﻠَﻌَﻞَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝُ ﺇﻟَﻰ
ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻓَﺈِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣُﻮﺭٌ ﻣَﻐِﻴﺒَﺔٌ ﻋَﻨَّﺎ ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ
ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑٌ ﻓِﻲ ﺣُﻜْﻢٍ ﺷَﺮْﻋِﻲٍّ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻓِﻲ
ﺃَﻣْﺮٍ ﻭَﺍﻗِﻊٍ ﻫَﻞْ ﻫُﻮَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ، ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ
ﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﺮَﺕْ ﻋَﺎﺩَﺓُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻧَﻪُ
ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻤَﻞَ ، ﻭَﻳُﻌْﺘَﻤَﺪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ
ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻴَﺴِّﺮُﻩُ ﻭَﻳُﻠْﺘَﻤَﺲُ
ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑِﻜُﻞِّ ﺳَﺒَﺐٍ ﻣُﻤْﻜِﻦٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺠُﻮﺩُ
ﻭَﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥُ ﺍ ﻫـ ‏( ﺃﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﺒﺮﻭﻕ ﻓﻲ ﺃﻧﻮﺍﻉ
ﺍﻟﻔﺮﻭﻕ – ﺝ 6 / ﺹ 104 )

“Tetapi yang dianjurkan oleh
seseorang adalah agar tidak
meninggalkan masalah ini (baca al-Quran di kuburan). Semogapendapat yang benar adalah sampainya pahala kepada orang yang telah wafat. Sebab ini adalah
masalah yang tak terlihat bagi kita.
Dalam masalah ini tidak ada
perselisihan tentang hukum
syariatnya, hanya dalam masalah realitasnya seperti itu atau tidak.
Demikian halnya dengan TAHLILAN yang sudah menjadi TRADISI manusia saat ini yang mereka amalkan

Hal ini dianjurkan untuk
diamalkan dan diteguhkan atas karunia Allah kemudahan yang diberikannya….”
(Anwar al-Buruq 6/105)

Riwayat dari Imam al-Qarafi diatas juga menguatkan fatwa Ibnu Taimiyah yang memang hidup 1 masa dengan beliau:

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏(ﺝ 5 / ﺹ
471‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻤَّﻦْ ” ﻫَﻠَّﻞَ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ
ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺑَﺮَﺍﺀَﺓً ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ” ﺣَﺪِﻳﺚٌ
ﺻَﺤِﻴﺢٌ ؟ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻭَﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ
ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻪُ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ .
ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﺇﺫَﺍ ﻫَﻠَّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻫَﻜَﺬَﺍ :
ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﺃَﻭْ ﺃَﻗَﻞَّ ﺃَﻭْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ . ﻭَﺃُﻫْﺪِﻳَﺖْ ﺇﻟَﻴْﻪِ
ﻧَﻔَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺜًﺎ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ
ﻭَﻟَﺎ ﺿَﻌِﻴﻔًﺎ . ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ

“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang orang yang bertahlil 70.000 kali dan menghadiahkannya kepada mayyit, supaya memberikan keringan kepada mayyit dari api neraka, haditsnya shahih ataukah tidak ? Apakah
seseorang manusia yang bertahlil dan menghadiahkan kepada mayyit, pahalanya sampai kepada mayit ataukah tidak ?
Jawab : Apabila seseorang bertahlil sejumlah yang demikian 70.000 kali atau lebih sedikit atau lebih
banyak dari itu dan
menghadiahkannya kepada mayyit,niscaya Allah akan memberikan
kemanfaatan kepada mayyit dengan
hal tersebut, dan tidaklah hadits ini
shahih dan tidak pula dlaif. Wallahu
A’lam”.
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ – ‏( ﺝ 5 / ﺹ 472‏)
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺗَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ؟
ﻭَﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴﺢُ ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻤِﻴﺪُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻬْﻠِﻴﻞُ ﻭَﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮُ ﺇﺫَﺍ
ﺃَﻫْﺪَﺍﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺑُﻬَﺎ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ؟ .
ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏُ ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ : ﻳَﺼِﻞُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺃَﻫْﻠِﻪِ
ﻭَﺗَﺴْﺒِﻴﺤُﻬُﻢْ ﻭَﺗَﻜْﺒِﻴﺮُﻫُﻢْ ﻭَﺳَﺎﺋِﺮُ ﺫِﻛْﺮِﻫِﻢْ ﻟِﻠَّﻪِ
ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺇﺫَﺍ ﺃَﻫْﺪَﻭْﻩُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺻَﻞَ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ
ﺃَﻋْﻠَﻢُ
“(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang
keluarga al-Marhum yang membaca
al-Qur’an yang disampaikan kepada
mayyit ? Tasybih, tahmid, tahlil dan
takbir, apabila menghadiahkannya
kepada mayyit, apakah pahalanya
sampai kepada mayyit ataukah
tidak ?
Jawab : Pembacaaan al-Qur’an oleh
keluarga almarhum sampai kepada
mayyit, dan tasbih mereka, takbir
dan seluruh dziki-dzikir karena Allah
Ta’alaa apabila menghadiahkannya
kepada mayyit, maka sampai kepada
mayyit. Wallahu A’l

Fatwa Aneh Wahabii

Di Saudi Arabia para ulama wahabi
berkumpul di Dewan Ha’iah Kibar Al-
Ulama dan al-Lajnah al-Daimah li’l-
Buhuts al-’Ilmiyyah wa’l ifta’ (The
Permanent Council for Scientific
Research and Legal Opinions),
Seperti :
‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
(1911-1999), sampai meninggalnya ia
adalah mufti agung Kerajaan Saudi
Arabia. Muhammad bin Shalih bin
‘Utsaimin (1927) Abdullah bin Jibrin
dan Shalih bin Fauzan yang juga
memimpin al-Ma’had al-’Ali li’l
Qudah (Supreme Judicial Council).
Sekarang coba kita perhatikan
beberapa hasil fatwa kaum sesat
Wahabi ini :
PERTANYAAN 1
Saya ingin mengirimkan foto saya
kepada istri, keluarga, dan
teman-teman saya, karena sekarang
saya berada di luar negeri. Apakah
hal ini dibolehkan?
JAWABAN (oleh komite ulama Lajnah
dalam Fatawa al- Lajnah) Nabi
Muhammad di dalam hadisnya yang
sahih telah melarang membuat
gambar setiap makhluk yang
bernyawa, baik manusia atau pun
hewan. Oleh karena itu Anda tidak
boleh mengirimkan foto diri Anda
kepada istri
Anda atau siapa pun.
PERTANYAAN 2
Apakah hukumnya jika seorang
perempuan mengenakan beha
(kutang atau bra) ?
JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin
dalam Fatawa al- Lajnah) Banyak
perempuan yang memakai beha
untuk mengangkat payudara mereka
supaya mereka terlihat menarik dan
lebih muda seperti seorang gadis.
Memakai beha untuk tujuan ini
hukumnya haram. Jika beha dipakai
untuk mencegah rusaknya payudara
maka ini dibolehkan, tetapi hanya
sesuai
kebutuhan saja.
PERTANYAAN 3
Apakah hukumnya Saudi Arabia
membantu Amerika Serikat dan
Inggris untuk berperang melawan
Irak? (ini kasus Perang Teluk
pertama sewaktu Bush senior jadi
Presiden Amerika Serikat)
JAWABAN
Hukumnya adalah boleh (mubah).
Alasannya karena (1) Saddam Husein
telah menjadi kafir, jadi Saudi
Arabia memerangi orang kafir dan
bukan seorang Muslim (2) Mencari
bantuan dari Amerika Serikat dan
Inggris adalah suatu hal yang
mendesak (dharurah) (3) Tentara
Amerika sama statusnya dengan
tenaga kerja yang dibayar. Tentara
Amerika bukanlah aliansi kita, tetapi
kita mempekerjakan mereka untuk
berada di pihak umat Islam untuk
berperang melawan orang kafir
(yaitu Saddam Hussein).
Tampaknya Lajnah ini mengurus
banyak hal, dari beha hingga perang
teluk. Yang menyedihkan adalah
fatwa-fatwa itu tampak berasal dari
kondisi absennya rasionalitas yang
cukup akut. Lenyapnya akal sehat
untuk jangka waktu yang cukup
lama. Fatwa-fatwa di atas juga tidak
menunjukkan adanya koherensi,
tidak terlihat dipakainya metode
penetapan hukum yang
dikembangkan para fuqaha klasik,
tidak ada pula pendekatan melalui
kaidah-kaidah fikih, dan tidak ada
usul fikih. Yang tersisa hanyalah
wacana hukum yang otoritarian. Jadi
tidak heran kalau fatwa – fatwa yang
keluar tidak bermutu dan tidak ada
yang mendengarkan.
Source: ahmadtaufik-
ahmadtaufik.blogspot.com

Alasan dukungan ulama

Sang Pengembara:

sekilas berita politikpemilu

Originally posted on Mutiara Zuhud - Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu:

ulama dan habib Jatim

Inilah Alasan Ulama dan Habib Jatim Dukung Prabowo

Sumber: http://www.aktual.co/politik/141941inilah-alasan-ulama-dan-habib-jatim-dukung-prabowo

****** awal kutipan ******
Ahmad H. Budiawan – Rabu, 04-06-2014 15:37

Surabaya, Aktual.co — Ratusan Ulama dan habib se-Jawa Timur sepakat memberikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo- Hatta pada Pilpres 9 Juli 2014 mendatang.

“Jadi Forum ulama dan habib di Jawa Timur termasuk area tapal kuda, setelah melakukan musyawarah dan menimbang secara syariat, kesimpulannya kita memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta,” ujar Habib Zaid Alwi Alkaf saat menghadiri forum silaturahmi ulama dan habib se-Jatim, di rumah salah tokoh agama di Surabaya, Ali Badri Zaini, Rabu (4/6).

“Jadi jangan melihat figur capres. Tapi siapa saja dikelilingnya dan pendukungnya seperti partai dan ormas Islam. Dan lagi ini demi kepentingan umat Islam di Indonesia,” lanjut Habib zaid Alwi alkaff

Ada 5 alasan mengapa Habib dan ulama di Jawa Timur memilih Prabowo. Diantaranya, saat ini negara butuh pemimpin…

View original 7.704 more words